Drawing of Love [Part 2]

dol

Tittle : Drawing of love

Author : Park Niyeon (Nissella)

Genre : Romance, sad, Friendship

Lengh : Series

Cast :

  • Xie Luhan
  • Park Jiyeon
  • Park Jinyoung/JR JJ Project
  • Jung Soojung/Krystal

Happy Reading and Hope you like this Story ^^

RCLnya please ;)

“Ahjussi gila?” seru Jiyeon menunjuk Luhan disaat yang bersamaan Luhanpun berseru “Yeoja dinosaurus?” sembari menunjuk kearah Jiyeon

Ahjumma tadi kemudian keluar  mengahmpiri mereka berdua. Ahjumma ini Nampak bingung karna anaknya mengenal Jiyeon.

“Luhan-ah.. kau mengenalnya?” Tanya Ahjumma itu pada Luhan.

Luhan mengangguk membenarkan “ne, eoma.. dia yeoja dinosaurus.” Celetuk Luhan, yang langsung membuat Jiyeon melotot kearahnya.

“mwo? Justru kau sudah gila, menenangkan diri seperti ingin bunuh diri.” Seru Jiyeon melawan tak mau kalah dari Luhan.

“apa? Kaunya saja yang bodoh, main mengambil kesimpulan, dan aku curiga padamu kalau kau menyukaiku?”  ucap  Luhan, yang berhasil membuat Jiyeon terdiam. Namja ini kemudian menyamakan tingginya dengan Jiyeon seraya medekatkan wajahnya ke wajah Jiyeon. “benarkan yang ku katakan.” Ucap Luhan sembari tersenyum jahil. Wajah Jiyeon Nampak memerah yeoja ini  menggertakan giginya menahan amarah dan malu.

“Ya! Jangan berpikiran yang gila-gila.” Seru Jiyeon dengan emosi yang tertahan seraya mendorong wajah Luhan menjauh dari wajahnya. Nafas yeoja ini Nampak tidak beraturan

“wajahmu memerah.. benarkan yang kukatakan? Ayo.. akui saja.” Ucap Luhan lagi-lagi membuat Jiyeon semakin kesal

“sudah kubilang tidak.” Teriak Jiyeon, namun Luhan malah tertawa keras mendengarnya. Jiyeon semakin kesal mendengar tawa namja itu, yeoja ini kemudian melangkah mendekati Luhan lalu menendang kakinya. “awww… ya! Kau dasar yeoja dinosaurus sialan.” Seru Luhan kesal, seraya melompat-lompat memegangi kakinya.

Eoma Luhan Nampak tersenyum melihat mereka berdua seperti itu. Eoma Luhan kemudian menarik tangan Jiyeon kedekatnya “Luhan-ah.. sudahlah.. kau ini membuat orang emosi saja.” Ucap Eoma Luhan pada anaknya itu

“eoma.. kenapa kau malah membelanya? Apakah kau tidak melihat anakmu tadi di siksa oleh Yeoja Dinosaurus yang ganas itu.” Seru Luhan, yang langsung membuat Jiyeon kembali ingin menghajarnya, namun eoma Luhan menahan Jiyeon, sambil berusaha menahan tawanya.

“sudahlah, jangan perdulikan namja itu.. lebih baik bantu ahjumma memasak kajja..” ucap Eoma Luhan lalu mengajak Jiyeon meninggalkan Luhan disana.

“eoma.. sebenarnya siapa anakmu hah?” seru Luhan kesal

Eoma Luhan membawa Jiyeon ke dapurnya, sepertinya ada yang ingin dikatakan eoma Luhan pada Jiyeon, yang tidak boleh di ketahui Luhan. sekarang ini Jiyeon terlihat sedang mencuci beberapa sayuran, sementara eoma Luhan terlihat tengah  memasak sayur di kompornya.

“Jiyeon-ah.. sejak kapan kau mengenal Luhan?” Tanya eoma Luhan pada Jiyeon, yang langsung membuat Jiyeon menghentikan kegiatannya lalu menatap ke eoma Luhan.

“itu- sebenarnya baru kemarin ini Ahjumma, aku menabraknya saat dia sedang mabuk lalu dia pingsan, dan aku menolongnya.” Jawab Jiyeon menceritakan kali pertamanya ia bertemu dengan Luhan

“ah… begitu ya? Tapi sepertinya berkatmu, Luhan bisa tersenyum lagi, bahkan tertawa dan bercanda.” Ucap eoma Luhan yang membuat Jiyeon penasaran, karna jujur dari pertama kali ia bertemu Luhan ia yakin kalau Luhan sedang dalam masalah, makanya ia mabuk-mabukan.

“memangnya apa yang terjadi padanya Ahjumma?” Tanya Jiyeon dengan sepenasaran mungkin

“Luhan baru saja di tinggal pergi orang yang dicintainya.” Jawab eoma Luhan dengan wajah yang sedikit sedih.

“siapa orang itu? Apakah keluarga kalian?” Tanya Jiyeon semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada namja imut itu.

“anni.. dia adalah yeoja yang selalu ada di dekat Luhan.” Jawab Eoma Luhan sekali lagi, namun setelah mendengar jawaban eoma Luhan yang ini, sedikit membuat Jiyeon tertunduk entah karna apa.

“oh… pasti yeojachingunya.” Tebak Jiyeon dengan senyum yang di paksaan

Eoma Luhan tersenyum lalu melangkah mendekat kearah Jiyeon dan menepuk-nepuk pundaknya seraya tersenyum kearah Jiyeon. “anni.. yeoja itu tidak memiliki hubungan khusus dengan Luhan, mereka hanya dekat saja. Namun 2 minggu yang lalu yeoja itu meninggalkan Luhan, membiarkan Luhan terpuruk.. dan selama hari itu Luhan mengubur semua impiannya menjadi pelukis, dan malah menjadi pemabuk berat. Setiap harinya ia pergi di siang hari lalu pulang pagi esoknya.” Cerita eoma Luhan yang membuat Jiyeon prihatin mendengarnya, ia pikir jahat sekali gadis itu, meninggalkan Luhan begitu saja.

“Ahjumma.. jangan sedih ya, aku yakin Luhan akan kembali seperti dulu lagi.” Hibur Jiyeon sembari memegang kedua bahu eoma Luhan dengan kedua tangannya lalu mengelusnya pelan.

“gomawo Jiyeon-ah.. dan Ahjumma yakin, kaulah yang akan mengembalikan Luhan Ahjumma yang dulu.” Ujar eoma Luhan sembari tersenyum, Jiyeon tersentak mendengarnya, mata yeoja ini membelo.

“Ahjumma.. kau bicara apa? Itu tidak mungkin ahjumma.” Ucap Jiyeon sembari di delingi tawa ketidak yakinannya kalau omongan Eoma Luhan itu benar.

“ania.. Jiyeon-ah.. selama 2 minggu ini Luhan tidak pernah tertawa apalagi bercanda seperti tadi.”

“Ahjumma.. ia hanya senang meledekku.”

“maka dari itu Jiyeon-ah.. Ahjumma meminta bantuanmu untuk mengembalikan Luhan menjadi Luhan yang dulu, Ahjumma yakin kau bisa melakukannya.” Ujar eoma Luhan dengan nada yang yakin sekali kalau Jiyeon bisa membantu Luhan.

“entahlah.. Ahjumma aku tidak yakin.” Ujar Jiyeon pesimis sembari menggigit kukunya gugup

“kau pasti bisa.. Ahjumma sangat mengharapkanmu.” Ucap eoma Luhan sekali lagi yang membuat Jiyeon akhirnya mengangguk, untuk membantu eoma Luhan membuat Luhan kembali seperti dulu.

###

Jiyeon melangkah menyusuri jalan menuju rumahnya dengan membawa bungkusan makanan yang tadi di masaknya dengan eoma Luhan di rumah Luhan. Yeoja ini Nampak lemas, Karena ia memikirkan janjinya tadi dengan eoma Luhan. Kalau ia akan membatunya mengembalikan Luhan yang penuh dengan impian. JR terlihat memperhatikan jalannya Jiyeon yang menunduk sedari tadi, hingga akhirnya Jiyeon melangkah melewati JR membuat JR kesal. JR kemudian berjalan mengejar Jiyeon dan memegang bahunya.

“ya! Waeyo? Apa yang dilakukan ahjumma itu padamu? Kau tidak di apa-apakan kan?” Tanya JR bertubi-tubi. Maklum saja ia sangat mengkhwatirkan Jiyeon semenjak kejadian tadi di pasar, ia merasa bersalah pada Jiyeon. untuk beberapa saat Jiyeon tidak menjawabnya, yeoja itu masih menunduk saja. “ya! Park Jiyeon jangan membuatku takut.. jawab pertanyaanku.” Seru JR kesal karna tidak di gubris oleh Jiyeon.

“JR-ya.. aku baik-baik saja.. Ahjumma itu memperlakukan ku dengan baik.” Ucap Jiyeon lemas, yeoja ini menjawab dengan terpaksa karna tidak mau membuat namja imut itu khawatir padanya.

“lalu kenapa kau jadi lemas seperti ini? Tidak biasanya nenek sihir seperti ini.” Ucap JR mengutarakan kebingungannya

“Gwenchana… aku hanya kecapean.” Ucap Jiyeon lalu menepis tangan JR yang sedari tadi memegang bahunya dan melangkah melewati JR

JR Nampak heran dengn Jiyeon, karna tidak biasanya yeoja nenek sihir itu seperti ini, biasanya bila dia memanggilnya nenek sihir sekali saja, yeoja itu langsung ngamuk, tapi kali ini berbeda. JR kemudian berlari mengejar Jiyeon.

“Ya! Nenek sihir, ada apa denganmu.” Seru JR mengejar Jiyeon sembari membuka pintu rumah Jiyeon.

“JR-ya.. aku sedang tidak ingin bercanda.” Ucap Jiyeon sembari menyiapkan makanan yang tadi di masaknya di atas meja.

“habisnya kau tidak mau bercerita padaku… ayolah Jiyi… ceritakan padaku ya.” Pinta JR memelas.

Jiyeon tersenyum kecut melihat wajah memelas imut dan ganteng yang ditunjukan JR di depannya itu. “tidak ada apa-apa.. aku baik-baik saja.. sudah ku bilang aku hanya capek.” Ucap Jiyeon meyakinkan JR… akhirnya JR menyerah juga.

Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka, dan muncullah seorang yeoja cantik dari pintu itu, namun JR malah ngeri melihat gadis itu. Di karenakan datang-datang kerumah ia malah mengggerutu sendirian. JR dan Jiyeon memperhatikan yeoja itu, JR dan Jiyeon sama-sama berpikiran yang sama yaitu ‘ada apa dengannya?’ kedua orang ini kemudian melangkah mendekati yeoja yang masih saja menggerutu itu.

“aaah… dasar boss menyebalkan, apasih kurang pekerjaanku, sampai-sampai aku di marahi habis-habisan.” Gerutunya, Jiyeon kemudian mendekati yeoja itu sembari membawa kopi hangat untuknya.

“Eoni-ah.. wae geure? Apakah ada yang terjadi dengan pekerjaanmu.” Tanya Jiyeon sembari menyodorkan minuman itu pada yeoja yang di panggilnya Eoni.

Yeoja itu kemudian menyeruput minuman tersebut. Namun baru saja ia meneguknya dengan tempo yang cepat ia langsung menyemburkan minuman itu karna lidahnya terasa terbakar. “ya! Kenapa ini panas sekali.” Gerutunya kesal. Sembari menjulurkan lidahnya yang terbakar akibat minuman tersebut.

“hahahhahhah….” JR tertawa puas melihatnya. Yeoja itu kemudian memukul JR keras, membuat JR menghentikan tawanya, walau sebenarnya ia masih ingin tertawa lebih keras.

“ya! Kenapa kau tertawa….” Seru yeoja itu kesal pada JR

“Mianhae.. Noona habisnya kau lucu sekali kekeke…” ucap JR kemudian kembali terkekeh

“Hyomin eoni-ah mian… aku lupa memberitahumu kalau minumannya panas.” Ucap Jiyeon merasa bersalah sembari tertawa getir.

“ara.. ara.. gwenchana.. akunya saja yang terlalu emosi tadi.” Ucap Hyomin, Jiyeon kemudian melangakah kembali ke dapur untuk membawakan eoninya itu minuman dingin.

“Eoni.. ini minum…” ucap Jiyeon kembali menyodorkan minuman pada gadis yang teryata bernama Hyomin itu. Hyomin kemudian mengambil minuman itu dan meminumnya. Sekarang mereka bertiga tengah terduduk di ruang tamu.

“Eoni.. sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa kau pulang marah-marah begini?” Tanya Jiyeon heran.

Hyomin masih terlihat meneguk minumannya, hingga isi di dalam gelas itu habis barulah Hyomin berhenti dan menaruh gelas tersebut di meja “sudahlah.. ini tidak penting, ini hanya urusan pekerjaan.”Jawab Hyomin dengan emosi yang tertahan.  Jiyeon menepuk-nepuk pundak kakak kandung perempuannya itu.

Jiyeon mengangguk-ngangguk. “eoni, sepertinya aku harus mencari pekerjaan untuk membantumu.” Ujar Jiyeon, yang membuat Hyomin dan juga JR mendelik kearahnya.

“Andwae.. kau di rumah saja dan memasak, jika kau bekerja siapa yang akan memasak?” Tanggap Hyomin, menolak usulan Jiyeon barusan

“Gwenchana Eoni, aku bisa memasak terlebih dahulu lalu bekerja.” Ujar Jiyeon yang bersih keras untuk bekerja

Hyomin menarik nafasnya lalu mengeluarkannya pelan “baiklah, tapi kau harus janji padaku kalau kau tidak boleh bekerja terlalu keras..” Akhirnya Hyomin memberikan izin pada adiknya itu. Jiyeon tersenyum sembari menjawab ‘OK’ dengan ceria. Hyomin kemudian melangkah dari ruangan itu menuju kamarnya.

“kau yakin? Kau akan bekerja dimana?” Tanya JR penasaran

“entahlah, aku akan mencarinya dulu.” Jawab Jiyeon. Jr hanya mengangguk-ngangguk saja

###

Saat Jiyeon sedang asik memotong sayuran di dapurnya, ia teringat akan kata-kata ibunya Luhan kemarin, sebenarnya dari kemarin malam sampai pagi ini Jiyeon tidak bisa berhenti memikirkan hal tersebut, sampai-sampai ia insomnia kemarin malam. Jiyeon terus memotong wortolnya tanpa memperhatikan wortol tersebut, alhasil tangan cantiknya itu teriris pisau, Jiyeon meringis dan sedikit menjerit. JR yang baru saja mengambil minuman itu segera menghampiri Jiyeon. namja ini kemudian menarik tangan Jiyeon yang teriris di lihatnya banyak darah yang mengalir di telunjuk Jiyeon. dengan sigap JR memasukan tangan Jiyeon kemulutnya agar pendarahannya terhenti. Jiyeon Nampak mematung di tempat sambil menatap JR. begitupun dengan JR yang menatap Jiyeon. setelah itu JR segera melepaskan tangan Jiyeon lalu mengambil Tissue, dan juga plester.

“hey.. nenek sihir.. sebenarnya kau kenapa sih? Dari kemarin kau selalu melamun.” Tanya JR sembari mengelap tangan Jiyeon menggunakan Tissue.

“a-ania..” jawab Jiyeon singkat.

“lalu jika tidak terjadi apa-apa mengapa bisa kau melamun sampai tanganmu teriris begini?” ujar JR yang membuat Jiyeon terdiam harus menjawab apa?

“sudahlah ini bukan masalah besar, mungkin akunya saja yang menanggapinya terlalu berlebihan.” Ucap Jiyeon berusaha menghilangkan rasa penasaran dan khawatir JR padanya.

“selesai.” Ucap JR setelah selesai  memasangkan plester bergambar hati di telunjuk Jiyeon. Jiyeon terlihat menatap kearah plester itu

“ckck.. apa ini?? Seorang pencopet memiliki plester seperti ini?” ucap Jiyeon dengan tawa yang tertahan, habisnya menurut Jiyeon ini sangat lucu, seorang namja pencuri seperti JR memiliki plester bergambar hati haha.. lucu sekali pikirnya.

“ya! Itu bukan milikku, waktu itu ada seorang gadis yang memberikannya padaku.” Wajah JR nampak memerah sepertinya malu.

“gadis? Apakah ia pacarmu?” Tanya Jiyeon mencoba menggoda JR membuat namja itu kesal

“ani.. aku hanya bertemu dengannya sekali.” Bantah JR dengan nada yang kesal. Sementara Jiyeon tertawa puas karna berhasil membuat JR kesal, sampai wajah JR memerah menahan kekesalannya. “ya! Berhenti tertawa.”  Seru JR dengan emosi tertahan, namun Jiyeon tidak berhenti tertawa juga. “ya! Park Jiyeon… kemanhaerago.” Seru JR semakin meninggikan nada suaranya.”aihh kau nenek sihir yang sangat menyebalkan.” Rutuk JR lalu melangkah untuk meninggalkan Jiyeon. namun Jiyeon menahan tangannya.

Akhirnya Jiyeon menghentikan tawanya sedikit demi sedikit karna bila ia sudah tertawa keras, ia akan susah menghentikannya “ya! Ya! JR ku yang manis marah?” ledek Jiyeon sembari mencolek dagu JR yang mebuat JR semakin kesal di buatnya. “mianhae.. aku hanya bercanda.” Ucap Jiyeon, namun seperti JR masih marah, buktinya ia masih mempoutkan bibirnya. “ayolah…  jangan marah seperti ini ok? Aku belikan eskrim ya?” tawar Jiyeon mencoba memadamkan api didiri JR

“eskrim? Kau pikir aku anak kecil?” celetuk JR

“haha.. sampai kapanpun kau adalah bocah laki-laki kesayanganku.. keke.” Ucap Jiyeon di sertai senyumannya.

Tanpa sadar kata-kata dan senyuman itu membuat JR senang, namja lucu ini terlihat menyunggingkan senyumannya di wajahnya yang tampan plus cute itu. Setelah itu Jiyeonpun menarik JR keluar dari rumah ke taman kota untuk membeli ice cream sekalian jalan-jalan disana. Jiyeon memesan dua buah ice cream coklat pada seorang Ahjussi yang menjual ice cream keliling disana.

Setelah mendapatkan ice cremnya Jiyeon melangkah untuk menemui JR yang sedang menunggu di kursi taman. Namun saat ia akan menemui JR,  Jiyeon malah bertemu dengan seorang namja yang sedang membuka kios lukis gratis disana.namja itu Nampak memakai topi sembari memegang kuasnya. Jiyeon kemudian melangkah mendekati namja itu sembari memakan Ice cream coklat miliknya. Dan namja tersebut adalah Luhan, ia terlihat sedang memainkan kuasnya dan mulai melukis di kanvasnya.

“sedang apa kau disini?” Tanya Jiyeon pada Luhan sembari masih menjilat ice creamnya.

“eh.. kau dinosaurus..” celetuk Luhan sembari meninggalkan lukisannya dan menatap kearah Jiyeon yang sedang memakan ice creamnya.

“ya! Berhenti memanggilku dinosaurus.” Seru Jiyeon tidak terima, sembari menahan emosinya, yeoja ini kemudian kembali menjilat ice creamnya dengan kesal.

Luhan kembali memainkan kuasnya dan memoleskan beberapa warna cat di kanvasnya. “wae? Panggilan itu sangat cocok untuk yeoja galak sepertimu.” Ucap Luhan, dengan mata dan pergerakan masih pada lukisannya. Mata namja imut ini sepertinya sedang serius mengerjakan lukisannnya itu.

“ya! Aku tidak mungkin galak kalau kau tidak memulainya duluan.” Seru Jiyeon kesal, Luhan Nampak tertawa mendengar seruan amarah Jiyeon. namja ini memang selalu senang bila sudah membuat Jiyeon marah dan kesal.

“selesai” ucap Luhan lalu menaruh kuas dan cat air yang tadi di pakainya, kemudian menatap kearah Jiyeon lalu mendekat kearahnya. Luhan kembali terkekeh kecil setelah melihat Jiyeon. sementara Jiyeon kebingungan, karna tiba-tiba saja namja itu tertawa sendiri seperti orang gila

“heh ahjussi.. kau sepertinya memang benar-benar gila, tertawa sendirian” teriak Jiyeon lalu kembali menjilat ice creamnya ganas.

“hey.. aku ini tertawa karna ini.” Ucap Luhan lalu tangannya mengusap sisa ice cream yang ada di sekitar mulut Jiyeon. Jiyeon terdiam mematung di tempat. Luhan kemudian kembali tersenyum “makanya kalau makan ice cream pelan-pelan jangan sambil marah keke.” Ucap Luhan menasehati walau sebenarnya tujuannya itu adalah meledek Jiyeon bukannya menasehati.

“ya! Aku tidak akan belepotan dan marah-marah kalau bukan karrna kau.” Seru Jiyeon kesal

Luhan hanya menanggapinya dengan tawaan yang membuat Jiyeon semakin kesal pada namja di depannya itu “heh.. dinosaurus.. kapan kau akan berhenti marah-marah.” Ucap Luhan lalu mengambil ice cream yang  di pegang Jiyeon sedari tadi tanpa di makannya. “sepertinya kau sudah merencanakan untuk menemuiku, buktinya kau membelikanku ice cream.” Ucap Luhan kepedean lalu menjilat ice cream tersebut.

“ehh.. itu bukan untukmu.” Seru Jiyeon setengah berteriak, karna ice cream tersebut adalah milik JR. ia sampai lupa pada namja itu sekarang.

“lalu kalau bukan untukmu, untuk siapa?” Tanya Luhan sembari masih asik memakan ice cream milik JR

“aahh… sudahlah itu untukmu saja.” Seru Jiyeon kesal lalu kembali memakan ice creamnya dengan penuh emosi karna kesal

“hey… dino pelan-pelan makannya, nanti belepotan lagi hahaha.” Ucap Luhan lalu kembali tertawa puas, Jiyeon nampak semakin kesal padanya.  Yeoja ini mengepalkan tangannya menahan amarah. Sekarang ini ia berpikir bagaimana mungkin ia bisa mendekati Luhan dan membuatnya kembali seperti dulu, bila sikap Luhan selalu memperlakukannya seperti ini? Bisa meledak ia lama-lama.

“biar saja… aku kesal padamu.” Seru Jiyeon yang kembali membuat Luhan tertawa dengan semua kata-kata yang terlontar dari mulutnya.

JR terlihat sedang memperhatikan Jiyeon dan Luhan sedari tadi, namun kedua orang itu belum sadar akan kedatangan JR disana. Jiyeon kemudian berbalik membelakangi Luhan, berencana untuk meninggalkannya, namun setelah ia berbalik ia malah mendapatkah kejutan. Ia melihat JR tengah berdiri disana dengan tatapan yang bisa di artikan marah

“JR-ya? Sejak kapan kau disini?” Tanya Jiyeon, dengan suara yang bergetar takut kalau JR akan marah padanya.

Mata JR sedari tadi menatap kearah Luhan yang tengah memakan ice cream yang seharusnya miliknya, begitupun sebaliknya dengan Luhan, namja imut itu menatap kearah JR dengan tatapan bingung, namja ini kemudian menelan Ice cream yang tadi di gigitnya sebelum melihat JR lalu menelannya dengan susah payah.

Setelah mendengar pertanyaan Jiyeon, JR kemudian mengalihkan perhatiannya pada yeoja itu “aku dari tadi menunggumu, tapi sepertinya kau punya urusan lain.” Ucap JR lalu melangkah meninggalkan Jiyeon.

Jiyeon Nampak kebingungan, dia merasa bersalah karna telah melupakan JR yang sedari tadi menunggunya, yeoja ini kemudian berlari mengejarnya meninggalkan Luhan sendirian disana. Luhan kemudian berjalan kembali kearah Kios lukisnya lagi, lalu melihat kearah kanvas yang tadi di pakainya untuk melukis, ternyata sedari tadi ia bertengkar dengan Jiyeon itu, ia melukis wajah Jiyeon yang tengah memakan Ice creamnya. Di lukisan tersebut Jiyeon terlihat sangat imut.

Jiyeon mengejar JR dan memanggilnya sedari tadi, namun anak itu tidak mau mendengarkan penjelasannya, sepertinya kali ini JR benar-benar marah pada Jiyeon. Jiyeon kemudian menarik tangan JR, agar namja itu berhenti.

“mianhae.. tadinya aku hanya akan menyapanya, tapi aku malah bertengkar dengannya dan – lupa padamu.” Jelas Jiyeon, namun JR sepertinya tidak meresponnya namja ini hanya terdiam menatap Jiyeon yang menunduk bersalah di depannya.

“ya! Sejak kapan nenek sihir ini mau meminta maaf padaku?” ucap JR akhirnya, namja ini sedang mencoba menghibur Jiyeon, tadinya ia memang marah dan kesal pada Jiyeon. namun JR memang tidak bisa marah terlalu lama pada yeoja di depannya itu, apalagi melihatnya sedih seperti itu.

“JR- kau tidak marah padaku?” pekik Jiyeon sembari menengadah menatap JR

“ani.. kau tau sendiri aku tidak mungkin marah, tadi itu aku hanya kesal saja.”

“Mianhae…” ucap Jiyeon lalu memeluk JR dan menangis di pelukan namja itu. Ia benar-benar merasa bersalah, JR terlalu baik baginya untuk di lupakan seperti tadi. Apalagi hanya karna namja gila itu.

“Jiyeon-ah.. nanti lusa aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Ucap JR sembari tersenyum manis, Jiyeon mengangguk menerima tawaran JR.

###

Jiyeon mendapatkan undangan dari Eoma Luhan untuk makan siang di rumahnya. Sebenarnya Jiyeon sangat malas untuk pergi kesana, apalagi ia harus berurusan dengan Luhan. Tapi jika ia menolaknya ia merasa tidak enak dengan eoma Luhan. Akhirnya dengan terpaksa ia datang juga, sekarang ini ia sedang berjalan menuju rumah tersebut. Setelah sampai ia mengetuk pintu rumah Luhan, tak lama kemudian ibunya Luhanpun muncul membukakan pintu. Yeoja paruh baya itu memberikan senyumannya pada Jiyeon. Jiyeonpun membalas senyuman tersebut.

“Jiyeon-ah.. ayo masuk.” Ucap ibu Luhan ramah, Jiyeonpun masuk kedalam rumah tersebut. “Jiyeon-ah.. kau bisa tidak panggil Luhan, ia sedang melukis di galerynya.” Pinta Ibu Luhan, yang membuat Jiyeon sedikit tersentak yeoja ini Nampak terdiam sambil tersenyum canggung.

“euhh.. Ahjumma.. sebenarnya aku..” belum selesai Jiyeon berbicara ibunya Luhan sudah memotong kalimatnya itu.

“ayolah.. ahjumma mohon padamu.” Ibunya Luhan ini sepertinya tetap bersikekeh untuk mendekatkan Jiyeon dengan Luhan, agar Luhan kembali menjadi Luhan yang dalu. Jiyeon akhirnya mengangguk terpaksa sambil tersenyum canggung. Yeoja ini kemudian melangkah menuju gallery tersebut yang berada di lantai atas namun sebelum ia melangkah kan kakinya ke gallery tersebut ia menarik nafas lalu mengeluarkannya pelan. Setelah mempersiapkan diri untuk kembali bertengkar dengan namja itu, Jiyeon baru melangkah menaiki lantai atas, ternyata benar lantai atas sudah di jadikan gallery lukis Luhan, disana banyak di penuhi lukisan-lukisan cantik. Sepanjang jalan menuju tempat biasa Luhan melukis ini banyak sekali lukisan-lukisan yang terpampang disana.

Tiba-tiba Jiyeon menemukan sebuah Lukisan yang tidak di pajang namun di taruh di keramik dan tutupi oleh sebuah kain berwarna biru dongker, Jiyeon kemudian melangkah kan kakinya menuju lukisan tersebut lalu membuka kain yang menutupi lukisan itu. Ternyata itu adalah lukisan seorang yeoja cantik dan manis. Jiyeon tersenyum melihat lukisan itu, ia berpikir yeoja ini pasti adalah yeoja yang di ceritakan ibunya Luhan padanya. Makanya ini tutup agar Luhan melupakan gadis itu. Tapi Jiyeon berpikir Luhan pasti akan susah melupakan gadis itu. Karna di lihat dari lukisan tersebut gadis itu terlihat cantik, baik dan ramah, jaman sekarang jarang sekali ada gadis seperti itu pikir Jiyeon Juga.

“apa yang kau lakukan?” Tanya Luhan ketus seraya menutup kembali lukisan tersebut. Jiyeon Nampak kaget dengan kedatangan namja itu.

“aku-aku disuruh eomamu menjemputmu untuk makan siang.” Jawab Jiyeon polos, namun Luhan sepertinya tidak mendengarkannya. Namja itu kemudian mengambil semua lukisan yang tadi di tutup kain.

“ya! Ahjussi gila.. apakah gadis itu adalah mantan pacarmu?” Tanya Jiyeon setengah berteriak, karna kebetulan Luhan sudah melangkah jauh darinya.

Mendengar pertanyaan itu membuat Luhan menghentikan langkahnya, namja ini kemudian menaruh lukisan itu sembarangan lalu kembali ke dekat Jiyeon dan menatap tajam mata Jiyeon.

“bisa tidak kau tidak ikut campur?” ujar Luhan ketus dan menusuk ke dalam hati Jiyeon

“mian jika aku ikut campur, aku hanya bertanya, jika kau tidak mau menjawabnya yasudah…” Ujar Jiyeon sembari mempoutkan bibirnya.

“bilang pada eoma aku akan segera turun.” Ucap Luhan lalu kembali melangkah dan mengambil lukisan tadi dan pergi meninggalkan Jiyeon.

Jiyeon kemudian melangkah pergi dari sana menuruni tangga. Dilihatnya Luhan sudah duduk rapi di meja makan, kedua orang ini Nampak saling menatap satu sama lain, Luhan yang biasanya selalu menatap Jiyeon jahil, kini malah menatap Jiyeon dengan tatapan yang dingin. Jiyeon kemudian mengalihkan pandangannya dari Luhan lalu duduk berhadapan dengan Luhan. tak lama kemudian ibunya Luhan menghidangkan beberapa makanan di meja makan. Setelah itu merekapun menyantap makanan tersebut dalam diam.

“eoma lihat sepertinya kalian sudah dekat ya?” Tanya Eoma Luhan berbasi-basi untuk menghilangkan rasa canggung yang sedari tadi menyelimuti Jiyeon dan Luhan

“anni… eoma, justru kami tidak saling mengenal.” Jawab Luhan dingin, Jiyeon yang tadinya akan memasukan sesendok makanan itu tidak jadi dan malah menatap kearah Luhan

“jinja? Tapi eoma lihat kalian sangat dekat apalagi, kalian memiliki nama panggilan masing-masing bukan?” ucapan eoma Luhan yang ini berhasil membuat Jiyeon tersedak, yeoja ini terbatuk-batuk, eoma Luhan kemudian memberikannya minuman.

“mian Ahjumma.” Ucap Jiyeon merasa bersalah akibat acara tersedaknya tadi, Eoma Luhan hanya tersenyum sembari menggeleng.

“eoma, aku ingin kembali melukis.” Ucap Luhan lalu beranjak dari duduknya tanpa menyelesaikan makannya. Namja ini kemudian melangkah menaiki tangga rumahnya.

“Jiyeon-ah… apa kalian sedang marahan? Padahal kemarin Ahjumma lihat kalian masih saling bercanda.” Tanya eoma Luhan pada Jiyeon, padahal Jiyeon sediri bingung dengan semua ini. Kenapa ia merasa tidak enak saat Luhan bersikap dingin seperti ini. Jiyeon hanya menanggapi pertanyaan itu dengan gelengan lemah.

###

Jiyeon sudah berjalan kesana kemari untuk mencari pekerjaan namun tidak ada satupun yang mau menerimanya, Jiyeon sudah bingung harus mencari kemana lagi. Sekarang ini ia tengah duduk di halte sembari menyeruput minumannya. Tak lama kemudian ponselnya berdering Jiyeon segera mengangkatnya itu dari JR.

“aku sedang di halte menunggu Bus menuju kesana. Kau tunggu saja ok.” Ujar Jiyeon lalu segera menutup telponnya mengakhiri pembicaraannya dengan JR

Disaat seperti ini, Jiyeon kembali di pertemukan dengan Luhan namja itu Nampak sedang berjalan menuju suatu tempat, Jiyeon jadi penasaran akan kemana namja itu pergi? Apakah ia akan kembali membuka kios di taman kota? Karna rasa penasarannya itu Jiyeon kemudian berjalan mengikutinya. Jiyeon terus mngikuti Luhan dan kembali lupa kalau ada JR yang sudah menunggunya di sebuah tempat yang mereka janjikan sebelumnya.

Akhirnya Luhan berhenti melangkah dan memasuki sebuah kedai. Jiyeon memperhatikan namja itu dari kejauhan, ternyata ia memesan banyak minuman keras lagi. Sepertinya ia kembali menjadi Luhan yang pemabuk,  Jiyeon terus memperhatikannya seiring dengan ponselnya yang berdering, sedari tadi JR menelponnya namun Jiyeon tak meresponnya di karenakan ponselnya selalu di silent. Hingga botol ke 3 Jiyeon tidak bisa lagi membiarkan Luhan mabuk, Yeoja ini melangkah ke meja Luhan lalu menariknya dari kedai tersebut seraya meninggalkan uang sebanyak 10.000 won tanpa kembalian. Jiyeon menarik Luhan hingga jauh dari kedai tersebut. Luhan Nampak marah namja ini melepaskan tangan Jiyeon dari tangannya dengan kasar.

“ya! Apa pedulimu? Kau bukan siapa-siapaku.” Seru Luhan seraya menatap manik mata Jiyeon, yang sudah memancarkan kekesalan yang mendalam pada Luhan..

Jiyeon kemudian menampar pipi namja itu, Luhan Nampak kaget mendapat tamparan dari yeoja itu, namja ini menatap Jiyeon tajam penuh amarah.

“aku tidak perduli apa yang ingin kau lakukan itu terserah padamu, tapi apakah kau tidak memikirkan orang lain selain dirimu?” seru Jiyeon dengan mata yang memerah karna ia menahan amarahnya. “apakah kau tidak pernah memikirkan eomamu yang selalu mengkhawatirkanmu?” tambah Jiyeon yang semakin mengeraskan suaranya. “lalu apa di otakmu itu hanya ada nama Soojung?” seru Jiyeon yang membuat Luhan marah saat mendengar nama itu di sebut. Ia tidak suka bila ada yang mengungkit nama itu.

“ya! Kau terlalu banyak bicara.. tau apa kau tentang ku dan kehidupan ku hah? Kau hanya pendatanga baru disini.” bentak Luhan yang membuat Jiyeon semakin marah pada namja itu. Jiyeon kembali menampar pipi Luhan lagi agar namja itu sadar. Mata Jiyeon sudah berkaca-kaca menahan tangisannya.

“aku memang tidak tau apa-apa tentang semua ini, tapi hargai lah eomamu yang setiap hari selalu mengkhawatirkanmu karena kelakuanmu…. Seharusnya kau sadar kau itu masih punya eoma yang selalu ada disismu dan menjagamu, tidak seperti aku.. asal kau tau aku iri padamu karna kau memiliki eoma yang begitu menyayangimu.” Seru Jiyeon mengeluarkan seluruh isi kepalanya yang sedari tadi di pendamnya. “cobalah pikirkan lagi, aku tau kau patah hati karna gadis itu.. tapi patah hati juga ada batasnya, sekarang aku Tanya padamu, apakah gadis itu juga memikirkanmu? Apakah ia juga rela menyakiti hati keluarganya hanya demi dirimu? Tidak bukan? Untuk apa kau memikirkan orang yang sama sekali tidak memperdulikanmu, tapi orang yang selalu mengkhawatirkan dan memikirkanmu kau sakiti..” seru Jiyeon lalu mendorong tubuh Luhan dan melangkah pergi meninggalkan namja itu.

Sekarang Luhan mematung mematung di tempat, ia sedang memikirkan apa yang di ucapkan Jiyeon barusan, semua itu memang benar, ia telah menyakiti hati ibunya, hati seorang wanita yang pastinya sangat menyayanginya. Ia benar-benat menyesal karna telah bersikap egois tanpa memikirkan orang-orang di sekitarnya. Sekarang ini Luhan sedang menangis, menangis sejadi-jadinya.

Sementara itu Jiyeon melangkah menuju rumah dengan beberapa bulir air mata yang membasahi pipinya, sepertinya karna kejadian ini, ia lupa akan janjinya dengan JR. padahal JR sedari tadi sudah menunggunya disana. Namja itu terus menelpon Jiyeon, namun Jiyeon tidak mengangkatnya juga.

TBC

644714_497688746959139_1397199339_n_副本

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aaaahhh…. Ini FF terancur yang pernah aku buat…. >< Sumpah aku gak punya ide lagi buat ngelanjutinnya, ini aja aku asal ngetik ngikutin apa aja yang pengen di ketik tangan aku.. maaf banget karna ceritanya mengecewakan, monoton , garing dan sebagainya… aku minta maaf ya 😉 tapi semoga aja minggu depan aku dapet ide bagus buat FF ini 😀

Don’t forget to RCL 😉

Advertisements
Drawing of Love [Part 2]

31 thoughts on “Drawing of Love [Part 2]

  1. ..sampai bagian part TBC aku kehilangan kata2 mau komentar yg sebelum2nya..
    “feel” nya kalimat jiyeon berasaaaa…
    sungguh! kerennnnnnn!!!! T__T
    terlebih “sekarang aku Tanya padamu, apakah gadis itu juga memikirkanmu? Apakah ia juga rela menyakiti hati keluarganya hanya demi dirimu? ” dalam dan sangat jelas sekali. . .
    update soon thor!

    1. hahha.. boong ah 😀 ini kan FFnya ancur..
      ngetiknya aja ngasal tanpa pemikiran dulu -_- yang penting part ini jadi aja 😀 tapi kalo misalkan ternyata dapet, ternyata tanganku ini hebat bisa asal ngetik dengan bagus wkwkw XD
      Sungguh.. makasih banyak banget atas semua koment dan pujian kamu 😉 aku terharu bacanya T_T
      oke, tapi gak janji ya hihi 😀

  2. ulfatuz1998 says:

    Nissel aku bingung mau komentar apa..
    beneran gak bisa ngomong banyak pokoknya DAEBAK!!
    fellnya dapet banget 😀
    kata-katanya nyentuh banget loh,,
    pokoknya lanjutt………

  3. JullieMinhoz says:

    Aigo, kasian JR dilupain Jiyeon… Emankk JR udahh nyiapin apa sihhh…?
    Spertinya Lulu mulai rada sadar nihh stelah dnger nasehat (?) Jiyeon…
    Ayolahh Lulu lupain aja Soojung…. 🙂

    D’tunggu next part’nya… 🙂

  4. queeny97 says:

    Poor JR -,-
    dia sllu di lupain -,-
    Luhan… cepatlah sadar!!! udah di ceramahin jiyi panjang lebar gitu. Awas ajj low masih gak sadar!!
    Daebak kok chingu ff mu ini. q jg suka LuYeon couple >_<
    Next part palli, palli. Fighting!?!?!?! 😀

  5. angelbesidemey says:

    wah inisih nisel banget ^^b suka bikin penasaran, kira2 Luhan jadi suka ga ya ama yeon? tapi… aku pronya kok malah ke JR ya sel? ._.v gatau knapa haha. next apdet ditunggu ya^^

  6. yeonsoo says:

    hmmmm
    JR patah hati donx !!!

    aigoo, jiyeon bisa nasehati org laen tp gx nasehati diri sendiri !!!
    suruh luhan mikirin perasaan eomma’y, tp jiyeon sndri gx mikirin perasaan JR

    next

  7. Aigoo.. Jiyeon ngelupain JR lagi,,, dan itu jg krna Luhan lagi.. -_-
    apa JR suka ma Jiyeon??
    kta” Jiyeon bwt Luhan ‘wOw DaeBak’ 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s