Drawing of Love [Part 3]

dol

 

Tittle : Drawing of love

Author : Park Niyeon (Nissella)

Genre : Romance, sad, Friendship

Lengh : Series

Cast :

  • Xie Luhan
  • Park Jiyeon
  • Park Jinyoung/JR JJ Project
  • Jung Soojung/Krystal

Happy Reading and Hope you like this Story ^^

RCLnya please ;)

Part 3

Matahari pagi datang menyilaukan mata Jiyeon yang sebenarnya masih mengantuk dan ingin tetap tertidur, yeoja ini kecapean akibat kemarin. Jiyeon kemudian menutup dirinya dengan selimut penuh. Hingga seseorang membukakan selimutnya, mebuat Jiyeon mengerutkan dahinya, karna merasa silau dengan sinar matahari tersebut, Jiyeon melihat Hyomin sedang beridiri menatap kearahnya, Jiyeon kemudian bangun dari posisi tidurnya dan duduk sembari menatap Hyomin.

“eoni? Waeyo?” tanya Jiyeon dengan keadaan wajah yang masih mengantuk

“ya! Apakah kau tau kemana JR pergi? Tadi ibunya datang kemari dan mencarinya.” Tanya Hyomin setengah berteriak, Jiyeon menutup telinganya karna suara keras Hyomin yang bisa merusak gendang telinganya.

“JR?” pikir Jiyeon sembari berpikir, maklum ia belum sadar betul. “aahhh.. eoni…” teriak Jiyeon keras.. yang membuat Hyomin kini menutup telinganya.

“ya! Kenapa kau berteriak? Memangnya kenapa hah?” seru Hyomin heran dengan tingkah Jiyeon.

“aaahh.. eoni, aku melupakannya kemarin, tadinya kami akan bertemu di sungai Han, tapi aku melupakannya.. eotteokke?” rengek Jiyeon menyesal, karna lagi-lagi ia melupakan JR

“mwo? jadi maksudmu dari kemarin namja itu tidak pulang dan sekarang masih disana?” tanya Hyomin dengan wajah yang tidak percaya kalau adiknya itu bisa melupakan JR padahal mereka terlihat sangat dekat. Jiyeon mengangguk menyesalinya, Hyomin menggeleng yeoja ini kemudian duduk di samping Jiyeon “bagaimana bisa kau melupakannya Jiyi-ah? lebih baik sekarang kau cepat mandi dan susul dia.” Titah Hyomin, tanpa banyak bicara lagi Jiyeon segera turun dari kasurnya dan mengambil perlengkapan mandinya lalu pergi ke kamar mandi.

Tak lama setelah itu Jiyeon keluar dari kamarnya dengan keadaan sudah rapi dan bersih, Jiyeon kemudian menghampiri Hyomin yang tengah sarapan, Jiyeon kemudian berpamitan pada Hyomin setelah itu ia berlari keluar rumah mencari JR. Jiyeon terus berlari hingga akhirnya ia telah sampai di tempatnya dan JR berjanjian yaitu di dekat sungai Han. Jiyeon mengarahkan pandangannya hingga akhirnya ia melihat JR tengah tertidur di sebuah kursi disana. Jiyeon kemudian berlari kearah namja itu.

“JR-ya.. gwenchana?” seru Jiyeon khawatir sembari menaruh punggung tangannya di dahi JR mengecek suhu tubuhnya, badan anak itu benar-benar panas. JR menggigil giginya menggertak karna kedinginan. JR sepertinya sakit, karna semalaman menunggu Jiyeon hingga akhirnya ia tertidur di bangku tersebut. Jiyeon kemudian melihat ada sekotak kue yang ada di belakang bangku tersebut. Jiyeon kemudian mengambil kue tersebut. Dan sekarang ia baru ingat kalau ternyata JR berulang tahun. Biasanya mereka memang selalu merayakan ulang tahun JR disini, pantas saja JR yakin kalau Jiyeon pasti akan datang hingga menunggu selama itu. Karena JR yakin kalau Jiyeon pasti mengingat hari ulang tahunnya. Kini Jiyeon menangis, menangisi kebodohannya, hanya karena rasa penasarannya terhadap Luhan.

“K-K-Kau… da-datang?” ucap JR sembari mengigil, Jiyeon lalu menaruh kue tersebut kemudian berjongkok di depan JR, menatap JR sembari menyeka air matanya yang tadi terjatuh.

“ya! Kenapa kau masih menungguku sampai pagi ini.” Seru Jiyeon di selingi tangisannya yang kembali pecah, karna menyesal

“a-aku kira k-kau akan mengingatnya.” Ucap JR yang masih saja mengigit

“Mianhaeyo…. Aku memang bodoh.” Ucap Jiyeon terisak, detik berikutnya Jiyeon  mencoba membantu JR bangun kemudian memapahnya lalu merekapun pergi menaiki Taxi.

###

“Luhan.. Luhan-ah..” panggil eoma Luhan mencari anaknya itu, di sekitar rumahnya. Saat ia membuka kamar Luhan. Pria itu sedang tidak ada disana.

Eomanya Nampak khawatir sekarang ini bagaimana tidak? Semalam Luhan datang ke rumah dengan keadaan yang sangat mengkhawatirkan. Namja itu tiba-tiba pingsan saat eoma Luhan baru saja membukakan pintu untuknya. Itulah yang membuat eoma Luhan sekarang mengkhawatirkan anaknya itu. Hingga akhirnya ibu Luhan beranjak mencari Luhan dengan berlari ke gallery dan tempat biasa anaknya itu melukis. Dilihatnya di tempat Luhan biasa melukis, ada banyak lukisan dirinya, Ibu Luhan Nampak kaget dan terharu ia menutup mulutnya dan sebutir air mata keluar dari sudut matanya.

“Eoma.. Mianhae..” ucap Luhan yang tiba-tiba saja datang entah dari mana, Luhan kemudian memberikan ibunya sebucket bunga yang indah pada Ibunya. Ibu Luhan kemudian memeluk anaknya itu erat sembari terisak

“eoma.. pasti memaafkanmu.. tidak ada seorang ibu yang tega untuk tidak memaafkan anaknya.” Ucap Ibu Luhan semakin erat memeluk Luhan.

“gomawo.. Eoma.. gomawo selama ini kau selalu ada disisiku, selalu mengkhawatirkanku, dan selalu memaklumi semua kesalahan yang telah kulakukan.. aku a-ku benar-benar menyesal telah menyakiti hatimu selama ini eoma…” ucap Luhan, yang kemudian ikut menangis, tangisannya pecah di saat itu juga. Ibu Luhan kemudian menarik tubuh Luhan dan menatap anaknya itu lekat.

“sudah ya.. kau jangan menangis seperti ini, anak laki-laki ku tidak boleh cengeng.” Ucap eoma Luhan kemudian menyeka air mata Luhan dengan ibu jarinya.

“Eomado.. uljima…” ucap Luhan sembari tersenyum lalu menyeka air mata ibunya sama seperti apa yang di lakukan eomanya  pada dirinya sendiri. Keduanya kemudian mengembangkan senyuman yang sangat ceria dan bahagia. “Eoma.. saranghae…” ucap Luhan lalu memeluk ibunya lagi, selayaknya seorang anak yang sangat merindukan kasih sayang ibunya.

“nado.. sarangahae..” balas Eoma Luhan.

Luhan tersenyum di balik pelukan ibunya itu, namja ini kemudian mencium pipi ibunya. Eoma Luhan nampak tertawa di karenakannya. Luhan kemudian kembali menyandarkan kepalanya di pelukan ibunya itu, pikirannya tiba-tiba melayang pada gadis yang telah memberinya ilham yang sangat berharga. Dan gadis itu adalah Park Jiyeon, kalau bukan karna gadis itu, mungkin Luhan akan terus berlaku tidak baik pada ibunya, orang uta satu-satunya yang di milikinya, saat ini Luhan ingin sekali menemui Jiyeon dan berterima kasih sebanyak-banyaknya pada gadis itu.

###

JR membuka kedua matanya, ia menatap ke sekeliling ruangan yang telah di tempatinya, sekarang ia berada di kamarnya sendiri. JR kemudian mengarahkan kepala dan pandangannya ke samping tempat tidurnya, dilihatnya seorang gadis cantik tengah tertidur disana, dengan polosnya. Wajah galaknya, wajah nenek sihirnya tidak terlihat disana. JR kemudian mengusap helaian rambut gadis itu lembut. Jiyeon kemudian terbangun dan menatap kearah JR yang tengah menatapnya juga, Jiyeon kemudian menarik tangan JR di kepalanya dan menaruhnya di samping JR.

“kau sudah bangun?” tanya Jiyeon dengan wajah yang terlihat sangat khawatir, JR hanya menganggukan kepalanya saja. Sepertinya kali ini namja itu marah pada Jiyeon.. “Mianhae.. karna lagi-lagi aku lupa padamu.” Ucap Jiyeon terlihat sangat menyesal, yeoja ini menundukan kepalanya tanda menyesal

“betapa bodohnya aku menunggumu disana, dan yakin kalau kau tidak akan melupakan hari itu..” ucap JR ketus dan dingin tidak seperti biasanya, namja ini bahkan sama sekali tidak menatap kearah Jiyeon, ia sengaja memalingkan wajahnya dari Jiyeon.

“Mianhae.. aku juga tidak tau kenapa selalu lupa.”

“ya! Park Jiyeon… aku masih bisa memahaminya kalau kau melupakan pertemuan kita, tapi apakah kau tidak mengingat hari kemarin itu hari apa?” teriak JR kesal, sebenarnya ia tidak bisa berlaku kasar seperti ini pada Jiyeon, tapi mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjur kesal padanya. Bagaimana bisa Jiyeon yang telah di kenalnya sedari kecil bisa melupakan ulang tahunnya.

“Jinyoung-ah.. aku minta maaf karna melupakan hari ulang tahunmu, kau tau.. kemarin itu aku terlalu terbebani.”

“ck.. terbebani kau bilang? Ya! Masalah apasih yang sebenarnya ada di kepalamu itu? Kau sudah berubah Park Jiyeon… kau bukan Jiyeon yang kukenal lagi.”

“JR aku___”

“kemanhae.. aku harap kau bisa meninggalkanku sendiri sekarang.”

Jiyeon hanya bisa menunduk sembari menangis, yeoja ini menyeka air matanya asal, lalu berdiri dari duduknya dan melangkah menuju pintu keluar dari rumah JR. sebelum menutup pintu kamar tersebut, Jiyeon sempat menoleh kearah JR yang masih memalingkan wajahnya dari Jiyeon. setelah itu Jiyeon pun menutup pintunya, di balik pintu Jiyeon kembali menangis. Sungguh ia benar-benar telah menyesal karna melupakan hari yang sangat penting itu. Padahal biasanya ia pasti ingat hari tersebut.sementara itu di dalamkamar JR Nampak menatap kea rah pintu kamarnya. Setelah itu ia berteriak sembari mengacak rambutnya frustasi.

###

Suara telepon membuat Jiyeon terbangun dari tidurnya, yeoja ini kemudian meraba-raba meja di sebelah tempat tidurnya mencari ponselnya yang terus berbunyi itu. Akhirnya ia berhasil memegang dan mendapatkan ponselnya, walau matanya itu masih enggan untuk terbuka, setelah mendapatkan ponselnya Jiyeon segera mengangkatnya dan menaruh ponsel tersebut di telinganya.
“Yoboseyo…” pekik Jiyeon malas dengan mata yang masih tetap tertutup. Tak lama kemudian Jiyeon terlonjak dari tidurnya dengan mata yang membelo akibat perkataan si penelpon tersebut. “mwo? jadi aku bisa bekerja di Gallery mu tuan?” ucap Jiyeon tidak percaya karna ternyata itu adalah kabar bahwa dia di terima di sebuah kantor perlukisan Jung. Kantor milik Soojung. “Ahhh.. kamsahamnida tuan.. saya akan datang kesana sekarang” ucap Jiyeon sembari tersenyum manis. Setelah itu ia mengakhiri pembicaraannya di telpon dengan orang tadi. Yeoja ini Nampak mengembangkan senyuman bahagianya.

Jiyeon kemudian beranjak dari tempat tidurnya lalu berteriak memanggil eoninya yang sedang bersiap di dalam kamarnya untuk berangkat kerja. Jiyeon mencari eoninya, kedapur ke ruang depan dan ke ruang tengah namun tidak menemukan sesosok kakanya itu, dan akhirnya Jiyeon berlari menuju kamar kakanya dan membuka kamar tersebut.

“Eoni………” teriak Jiyeon kemudian memeluk eoninya yang tengah duduk di meja riasnya sembari merias diri

“ya! Wae geure? Apa yang terjadi hah?” tanya Hyomin bingung pada adiknya itu. Hyomin kemudian melepaskan pelukan Jiyeon dan menatap adiknya itu bingung

“aku mendapat pekerjaan sebagai asisten di Gallery Jung..”jawab Jiyeon seantusias mungkin, senyuman yang mengembang itu tidak lepas dari wajah cantiknya.

Hyomin kemudian bersorak sembari tersenyum bahagia… “Jinjayo? Huaaa…. Chukkae saengi..” ucap Hyomin kemudian memeluk adiknya itu bahagia. Hyomin kemudian melepaskan pelukannya “tapi apa kau tidak akan kelelahan nantinya?”

“Gwenchana.. justru aku kasian pada eoni yang selalu bekerja keras, untuk itu biarkan aku bekerja ne?” ucap Jiyeon dengan nada manjanya pada Hyomin. Hyomin mengangguk menyetujuinya.

###

Luhan melangkah menaiki sebuah Lift di sebuah perkantoran namja ini baru saja mendapatkan telpon dari pemilik sebuah perusahaan pelukis terkenal yang tak lain adalah milik keluarga Soojung. Entah bagaimana ia bisa terpilih dan di terima sebagai Pelukis di perusahaan tersebut. Luhan kemudian memencet tombol ke lantai 6. Setelah itu ia menunggu sampai Lift itu mengantarnya tepat ke lantai tujuannya. Tak butuh waktu lama Lift tersebut pun sudah sampai mengantarnya ke lantai 6 lantai yang menjadi tujuannya. Pintu Lift tersebut kemudian terbuka, dan Luhanpun keluar dari Lift tersebut, lalu melangkah menuju sebuah ruangan. Namja ini kemudian mengetuk pintu ruangan itu sebelum ia memasukinya. Setelah terdengar izin masuk dari si pemilik kantor tersebut, akhirnya Luhan membuka pintu dan masuk kedalamnya. Disana terlihat ada seorang namja yang tengah duduk di belakang meja, sembari membelakanginya. Perlahan-lahan kursi yang diduduki namja itu berputar, dan menunjukan wajah dari pemilik perusahaan yang sedang di pijaki Luhan saat ini.

“aahh.. ternyata kau datang juga.” Ungkap namja yang  sudah berumur sekitar 40tahun-an

“karna anda menawariku, jadi sayang sekali bila kesempatan ini saya tolak, Tuan Jung.” Ucap Luhan dengan nada yang sepertinya menunjukan kalau mereka tengah berperang. Dan sebenarnya namja paruh baya itu adalah ayahnya Soojung.

“menarik.. baiklah, kau bisa bekerja mulai besok… dan jangan lupa aku mengandalkanmu untuk pameran lukisan 2 minggu lagi.. jangan sampai kau mengecewakanku, pameran ini sangatlah penting, dan kami tidak pernah kalah sebelumnya.”

“saya pasti bisa melakukannya.. tuan Jung yang terhormat..” ucap Luhan sembari menekankan kalimat terakhirnya, setelah itu ia menunduk untuk meminta izin keluar sekaligus berpamitan pada ayah dari Soojung itu. Setelah itu ia pun pergi dari tempat yang menurut Luhan sangatlah panas, walau padahal ACnya itu menyala.

Luhan berjalan menuju Lift, setelah sampai di depan Lift Luhan memncet tombol agar lift tersebut terbuka. Dan tak lama kemudian lift tersebutpun terbuka, dan betapa terkejutnya Luhan melihat Jiyeon ada disana, di dalam lift tersebut. Jiyeon dan Luhan saling bertukar pandang untuk beberapa saat. Jiyeon kemudian memalingkan matanya dari sosok Luhan lalu berjalan melewatinya, namun Luhan menahan tangannya.

“bisa kita bicara?” tanya Luhan pada Jiyeon. Jiyeon masih terpaku disana. Jiyeon kemudian melepaskan tangan Luhan dari tangannya menggunakan tangannya yang lain lalu menatap kearah Luhan

“maaf.. tapi kali ini saya sibuk.” Ucap Jiyeon kemudian melangkah meninggalkan Luhan. Luhan masih terdiam disana menatap Pungggung Jiyeon yang semakin lama, semakin menjauh darinya.

###

Setelah Jiyeon tadi habis menemui orang yang sama dengan orang yang Luhan temui yaitu Presdire Jung. Jiyeon kini berjalan keluar kantor tersebut dengan senyuman yang mengembang karna besok ia sudah mulai bisa bekerja di sana sebagai asisiten salah satu pelukis di kantor tersebut. Jiyeon kemudian melangkah keluar dari pintu perkantoran tersebut, dan tiba-tiba saja saat ia keluar dari pintu tersebut. Seseorang menarik tangannya, dan orang itu adalah Luhan, namja itu menarik tangan Jiyeon cukup kasar, di karenakan ia takut Jiyeon akan kabur darinya. Jiyeon memberontak karna jujur ia sangat membenci disaat ia harus bertemu dengan Luhan.

“ya! Lepaskan.” Seru Jiyeon sembari menghempaskan tangan Luhan dari tangannya. kali ini Luhan melepaskan genggaman tangannya, karna mereka sudah berada cukup jauh dari perkantoran tersebut. “sebenarnya apa yang kau inginkan dariku hah? Bukankah kau tidak suka aku mencampuri kehidupanmu.”  Teriak Jiyeon melampiaskan seluruh kekesalannya selama ini pada Luhan

“bisa tidak kau diam sebentar dan dengarkan aku.” Teriak Luhan sembari melotot kearah Jiyeon. Jiyeon kemudian terdiam memberikan kesempatan pada Luhan untuk berbicara, namun Luhan bukannya berbicara ia malah terdiam disana, sembari masih menatap kearah Jiyeon. Jiyeon hanya bisa tertunduk disana. “gomawo.” Ucap Luhan singkat, padat, jelas.. namun pelan yang sukses membuat Jiyeon menenggakkan kepalanya lalu menatap kearah namja itu intens. “aku sadar semua nasehatmu waktu itu benar.. aku telah dibodohi oleh perasaanku sendiri, seharusnya aku tidak seeogois itu.. karna itu aku sangat-sangat berterima kasih padamu karna telah membuatku menyadari kalau semuanya itu tidak berakhir saat Soojung meninggalkanku, karna masih ada eoma di sampingku.. karnanya Kamsahamnida Jiyeon-ssi.. dan aku juga meminta maaf padamu karna telah berlaku kasar.” Ucap Luhan tulus terlihat dari mata Luhankalau Luhan sangat menyesali semua kebodohannya itu.

“aku merasa bersyukur karna kau telah sadar Luhan-ssi, aku juga memaafkanmu.” Ucap Jiyeon kemudian memberikan senyuman tipisnya pada Luhan. Luhan membalas senyuman tersebut. “kalau begitu aku pamit.” Ucap Jiyeon kemudian membungkuk dan berbalik membelakangi Luhan, saat ia melangkahkan kakinya. Luhan kembali menahan tangannya. Jiyeon  kemudian kembali berbalik menatap kearah Luhan

“rasanya ada yang kurang bila meminta maaf dan berterimakasih hanya  dengan kata-kata.. untuk itu aku ingin mengajakmu jalan-jalan hari ini.” Ujar Luhan yangmembuat Jiyeon terpaku tak percaya akan hal tersebut. “jadi bagaimana kau mau tidak?” ucap Luhan mencoba menanyakan kepastian Jiyeon. Jiyeon hanya mengangguk pelan. Luhan tersenyum setelah itu ia menarik tangan Jiyeon dari sana, dan kemudian mereka pergi menaiki taksi.

Luhan kemudian membuka pintu taksi dan keluar dari taksi tersebut, Jiyeon pun iku keluar dari sana. Terlihat kalau disana ramai di kunjungi banyak pengunjung. Sekarang ini mereka tengah berada di Lotte World, ya Luhan membawa Jiyeon kesana, agar mereka bisa bersenang-senang menaiki beberapa wahana disana. Jiyeon Nampak senang karna di bawa kesana oleh Luhan, senyuman bahagianya kembali terpancar di wajah cantiknya.

Luhan kemudian menarik Jiyeon masuk ke dalam Lotte world tersebut. Sesampainya di dalam sana Luhan membawa Jiyeon menaiki banyak permainan  yang ada disana, terlihat sekali kalau Jiyeon yang selama beberapa Minggu kebelakang ini banyak pikiran, kini terlihat lepas dan bahagia akibat di ajak ketempat yang bisa menghibur dirinya itu. Setelah merasa puas dengan beberapa permainan mereka melangkah ke kedai Ice cream disana. Jiyeon terlihat menunggu di salah satu bangku dikedai tersebut, sementara Luhan terlihat tengah mengantri untuk memberi icecream disana. Tak lama kemudian Luhan datang sembari membawa dua mangkok Ice cream coklat. Luhan memberikan satu mangkok pada Jiyeon lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Jiyeon. setelah mendapatkan Icecreamnya, Jiyeon langsung melahapnya dengan cepat. Luhan tertawa pelan melihatnya.

“hey.. Dinosaurus! Sepertinya cara makanmupun seperti Dinosaurus” ujar Luhan sembari di selingi cekikikan tawanya. Jiyeon terlihat menghentikan makannya, lalu berusaha menelan suapan Ice cream yang ada di mulutnya.

“Neona Jalhaseyo” ujar Jiyeon kemudian kembali menyuapkan ice creamnya lagi dengan cepat. Luhan semakin tertawa melihatnya. Hingga di suapan terakhirLuhan melihat ada sisa Ice cream di mulut Jiyeon. Luhan kemudian mencoba menggapai sisa ice cream tersebut. Jiyeon yang menyadari kalau tangan Luhan tengah berusaha menggapai wajahnya segera mendang kursi Luhan dari arah kolong meja. Sehingga Luhan terjatuh kebelakang. Semua pengunjung kedai kini menatap kearah mereka.

“Aishhh… memalukan.” Gerutu Luhan, lalu berdiri dengan perasaan yang sangat malu “ya! Kenapa kau menendang kursiku hah?” teriak Luhan pada Jiyeon yang kini tengah berdiri dari duduknya

“kau, sendiri mengapa mencoba memegang wajahku.” Timpal Jiyeon

“itu.. itu di mulutmu.” Seru Luhan sembari menunjuk-nunjuk kearah wajah Jiyeon

Jiyeon kemudian memegang sudut bibirnya, akhirnya ia menyadari kalau ic cream yang di makannya tadi belepotan sampai ke sudut bibirnya. Yeoja ini tersenyum getir karnanya. Luhan Nampak menatap yeoja di depannya itu kesal.

“mianhae… aku tidak tau, habisnya kau menganggetkanku.” Ucap Jiyeon

“kya! Lalu aku harus bagaimana hah?”

“seharusnya kau cukup memberi tahuku.”

“aishh.. baiklah.. terserah padamu.” Seru Luhan kemudian melangkah dari kedai tersebut, dengan perasaan kesal dan malu yang bercampur aduk, Jiyeon kemudian berlari mengejarnya sembari menyerukan nama Luhan dan memintanya menunggunya.

###

Jiyeon menatap kearah gedug yang ada di depannya sekarang, yeoja ini memandang kearah gedung yang menjulang tinggi ke langit itu dari bawah sampai atas. Detik berikutnya yeoja ini tersenyum , bahagia karna dapat bekerja di tempat hebat seperti ini. Di sisi lain seorang laki-laki yang sudah pasti adalah Luhan tengah menatap dan memperhatikan Jiyeon dengan mata yang sedikit menyipit karna ia merasa familiar terhadap Jiyeon , detik berikutnya Luhan melangkah mendekati Jiyeon. namun yeoja itu telah melangkah duluan memasuki gedung perkantoran. Dengan langkah cepat Luhanpun mengejar Jiyeon. sementara Luhan sudah sampai di loby kantor Jiyeon sudah memasuki Lift dan bahkan Lift tersebut sudah menutup, sebelumnya Luhan sempat melihat wajah  jelas gadis itu saat sedang menutup lliftnya setelah lift tersebut sudah tertutup Luhan mendengus kesal. Sementara itu Jiyeon keluar dari lift dan memasuki kantor bosnya. Yeoja ini mengetuk pintu tersebut, setelah mendapatkan izin untuk masuk, iapun masuk kedalam kantor tersebut. Jiyeon tersenyum seraya berbungkuk  pada namja paruh baya yang memiliki kantor tersebut. Sedetik kemudian Jiyeon duduk di bangku depan Presdire Jung tersebut.

“jadi kau sudah tau kalau tugasmu adalah selalu membantu apapun keperluan pelukis yang nantinya akan menjadi bosmu kan?”  ucap Presdire Jung

“ne.. algesimnida Issangnim.” Ujar Jiyeon, sembari masih tersenyum dan menunduk

“geure, kalau begitu hari ini juga kau akan bertemu dengan pelukis tersebut. Dan sebenatar lagi ia akan sampai disini.” Ucap Presdire Jung lagi, tak lama kemudian terdengar suara seseorang mengetuk pintu ruangan tersebut. Secara naluriah kedua orang yang tengah berbincang ini langsung berbalik menatap kearah pintu masuk ruangan ini. selangkah kemudian terdengar kalau Presdire Jung menyuruh orang yang mengetuk tersebut masuk. Seorang namja kemudian muncul dari balik pintu tersebut. Mata Jiyeon yang sudah sangat besar kini menjadi semakin besar saja saat melihat namja itu. Namja itu kemudian menutup pintu lalu beralih menatap kearah Jiyeon dan CEO Jung. Namja ini adalah Luhan ia Nampak kaget saat melihat Jiyeon, keduanya terdiam saling bertukar pandang. “Selamat datang Luhan-ah.. kenalkan gadis ini akan menjadi asistenmu selama kau menjadi pelukis tetap di perusahaan ini.” Jelas CEO Jung yang sepertinya tak di gubris oleh kedua orang ini, mereka masih terdiam dengan pemikiran masing-masing.

TBC

Heheh… mian telat nge post nya ya keke 😀 ok deh makasih banyak udah mau nunggu FF gaje ini, mian kalau misalkan alurnya gaje, dan ceritanya pun gaje 😐 aku minta maaf ya kalau misalkan FF nya sangat-sangat mengecewakan.. 😐 mian juga karna terlalu pendek hihi 😐

Advertisements
Drawing of Love [Part 3]

27 thoughts on “Drawing of Love [Part 3]

  1. seriusan deh kasihan banget JR..
    Iya sih ak suka jiyeon ma luhan tapi jiyeon jangan keterlaluan juga sama jr..
    Ah iya cepet banget jiyeon bahagia lagi ya setelah sedih gara JR oaah..
    Lanjutannya ditunggu ya

  2. Ifahsiwonest says:

    Jiyeon jadi asisten luhan..
    Asik., jadi bisa dekat terus mereka wkwkwkwk

    Poor JR,
    kok ak ngak dapet feelnya ma JR soalnyo JR terlalu imut buat Jiyeonnie.. ^^

    Update soon chingu

  3. aihhhhh,, bertemu juga akhirnya…
    dan sebagai rekan kerja pasti bakalan canggung hahaha… gak sabar lihat jiyeon-luhan moment kkk~
    JR itu sudah seperti dongsaengnya jiyeon~ gak papa yahhh.. hehe
    update soon..

  4. Nitz says:

    Omo,JR nunggu sampe pagi. Jd marah kan dia ama jiyeon T_T,tp gmn lagi masa jiyi lupa ama ultah sahabatnya. Luhan udh sadar dan udh mau berubah,baguss *ksh jempol. Wouaah,luhan – jiyi kerja ditempat yg sama mana jiyi jd asistennya pula. Bakalan tambah seruuu nih ceritanya. Ditunggu lanjutanya 😀

  5. kasihan bgt ama JR
    tapi,, q seneng dech luhan & jiyeon kerjasama. jadi mereka bkln lebih byk moment. tapi, knp mereka krj di kantor tuan jung sii. gw takutnya nnt ada apa” nya (?)
    Suka luyeon moment. lucu jg pas jiyi nendang kursi lu. mau romantis mlh kritis xD. malu” in, cekaka
    Next~ 🙂

  6. ulfatuz1998 says:

    JR setia banget yak nunggu sampe pagi, sampe sakit pula hihi
    kasian loh, tega jiyi nglupain jr mulu hehe
    ya ampun mereka berdua jodoh deh..
    kemana-mana pasti ketemu 😀
    aku tunggu kelanjutannya chingu 😉

  7. VaYeon says:

    Aigooo ksian skli JR :’
    Thor, bikin mreka cepet baikan yah :’

    Luhan ah kpan kau bkal suka sma Jiyeon? (?) /tatap mata luhan/?)

    Okehsip’.’ Jiyeon jdi asistennya Luhan :)))

    Ditunggu next partnya ya thor

  8. JullieMinhoz says:

    Aigo, JR nya kasian nungguin Jiyeon ampe pagi… 😦

    Jiyeon jadi asisten Luhan… Bagus… Hehehe 😀

    d’tunggu Next part’nya… Pnsran ama Kisah’nya Luhan-Jiyeon… 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s