[Oneshot] Autumn Memories

Genre : Romance, Family

Autumn Memories

Length : Oneshot
Cast :

–          Lee Donghae

–          Han Seung Hye

OC : Super Junior member’s & Donghae’s family

Author : Kyura aka Meme

October, 15th 2013

Seoul Grand Park, Seoul – South Korea

Musim gugur kali ini harusnya aku banyak menghabiskan waktuku bersama dengan keluarga yang sangat aku cintai. Seharusnya aku berada pada titik dimana aku bisa membebaskan semua pikiranku meskipun hanya beberapa detik.

Tolong, bisakah kau mengambilkan sepatuku?

Pertama kali aku melihat tatapan lembutnya kala musim gugur berganti dan saat daun kering mulai berterbangan terlepas dari ranting pohon untuk kali pertamanya. Suara halusnya benar-benar memecah keheningan di siang hari yang begitu cerah. Masih teringat jelas dalam ingatanku wajah cantiknya berhasil memenuhi lensa kameraku yang tanpa sengaja menangkap sosoknya di bawah pohon maple.

Hari ini adalah kali pertama aku datang kembali ke tempat pertemuan kami yang benar-benar penuh dengan kenangan. Tak ada yang berubah, bahkan pohon maple itu masih berdiri kokoh disana, persis seperti 10 tahun yang lalu. Hanya beberapa benda yang berada di tepi sungai tak jauh dari pohon tersebut sedikit berubah, mungkin karena pergantian musim. Selebihnya, tak ada yang berubah.

“Bagaimana bisa kau menjatuhkan sepatumu?”

“Aku terpeleset”

Suasana disini begitu tenang, kali ini aku tahu mengapa tempat ini menjadi tempat favorit Seung Hye yang tak pernah seharipun terlewatkan olehnya. Tempat yang indah akan membuat suasana hati menjadi tenang dan bahagia, itulah yang ia katakan padaku.

Aku berjalan menyusuri aliran sungai hingga kakiku benar-benar menuntunku pada sebuah batu yang sangat aku kenali. Ku bidikkan mata kameraku pada batu tersebut. Tak ada yang istimewa memang, hanya sebuah batu berukuran sedang yang berdiri sempurna diatas tanah dengan guguran daun maple kering berserakan di sekitarnya. Tapi disanalah, pertama kalinya perkenalan kami terjadi.

“Kenapa kau bisa tercebur!”

“Aku mengambil sepatumu..! cukup berterima kasih saja dan tak perlu berteriak. Aku Lee Donghae..”

Eh..umm..gomawo… Han Seung Hye ibnida..”

Ku dudukkan diriku di atas batu tersebut dan meletakkan kameraku di atas pangkuan. Dia benar-benar mencuri semua oksigenku sejak pertama kali melihatnya. Dan aku harus menitipkan oksigen dan separuh hidupku padanya dalam jangka waktu yang terlampau lama. Tiba-tiba saja kurasakan sesuatu terjatuh di atas pangkuanku, yang secara mengejutkan membuatku kehilangan keseimbangan dan jatur terduduk di atas tumpukan batu kerikil. Aish—ulat bulu sialan itu benar-benar mengacaukan kenangan indahku.

Aku terdiam sejenak saat sebuah flashback tiba-tiba saja berputar di otakku.

“Aku akan menyimpan semuanya disini untukmu setiap tahun di hari ulang tahunmu. Jadi kau harus datang kemari setiap tahun jika ingin mendapatkan hadiah dariku dan ayahmu!. Di hari ulang tahunmu yang terhitung tahun  ke 7 dari kepergian beliau..”

Cih!. Karena kesibukanku bersama Super Junior bahkan aku hampir saja melupakan tempat ini andai saja sosoknya tak selalu berusaha mengungkit apa yang harusnya aku lakukan hari ini, apakah usia benar-benar berpengaruh pada ingatan?. Ku sibakkan tumpukan batu kerikil di hadapanku dan mulai menggali tanah yang berada di bawahnya. Sebuah kotak kaca bening menyeruak dari dalam sana, kotak yang sama yang selalu aku temui 8 tahun lalu. Harusnya aku selalu datang kemari untuk mendapatkan hadiah darinya, tapi sayangnya aku melupakan janjiku.

Kuputuskan untuk mengangkat dan membuka kotak kaca tersebut kemudian meletakkannya di hadapanku. Kini aku dapat dengan jelas melihat berapa banyak benda yang telah Seung Hye letakkan setiap tahunnya untukku di dalam sana. Topi, gelang, cincin, tali ponsel, fotoku bersama appa di sebuah taman bermain, dan juga kotak musik biru yang dulu pernah aku dapatkan darinya. Semua benda itu pernah aku dapatkan, dan kami memutuskan untuk menyimpannya dalam tempat ini. Tapi, ada satu benda yang belum pernah aku dapatkan dan telah tersimpan di dalam sana entah sejak kapan. Sebuah amplop surat putih dengan catatan tulisan tangan seseorang yang sangat aku kenali hingga saat ini.

Hatiku berdegup kencang saat tangan kananku menyentuh pucuk surat tanpa perangko tersebut. Benarkah ini surat darinya?. Ataukah ini hanya karangan yang ia tulis dan mengatas namakan appa?. Tidak, Seung Hye tidak mungkin melakukannya.

“…Di hari ulang tahunmu yang terhitung tahun  ke-7 dari kepergian beliau…”

Aku bahkan sudah sangat terlambat jika mengingat tahun ke-7 dimana seharusnya aku datang kemari, tapi tak kunjung datang karena kesibukanku bersama Super Junior.

Terlintas dalam benakku betapa bodohnya aku yang tak pernah memiliki waktu untuk hal ini. Akupun duduk bersandar pada pohon maple tepat di samping batu kenanganku dan mulai membaca kata demi kata yang tertulis rapih di atas kertas putih yang mulai menguning di dalam amplop tersebut.

–          Untuk anak appa tersayang

Lee Donghae..

Donghae-ah..anakku, anak appa… bagaimana kabarmu hari ini?. Appa berharap ketika kau membaca surat ini kau sedang dalam kondisi yang sangat baik. Karena appa masih akan selalu mengawasimu.

Donghae-ah… maafkan appa jika saat kau membaca surat ini, appa bahkan tak bisa lagi memeluk tubuhmu atau sekedar menggenggam tanganmu. Apakah kau tumbuh menjadi pria yang tampan saat ini?. Kau pasti seperti itu, karena anak appa adalah yang tertampan di seluruh dunia. Donghae-ah, selamat ulang tahun.. appa benar-benar teringat saat hari ulang tahunmu tiba, kau selalu merengek dan memeluk appa begitu erat.

Semuanya hampir terlewat saat appa mendengar bahwa kau akan bergabung bersama managemen yang begitu menginginkanmu. Masih sangat aku ingat betapa besar keinginanmu untuk menjadi seorang penyanyi. Appa tahu bahwa dari sanalah kau akan menentukan kemana kau melangkah. Appa ingat betapa kerasnya kau berusaha untuk membagi waktumu di usia yang masih begitu rawan. Pernahkah kau tahu bahwa appa mengkhawatirkanmu akan melupakan appa?. Apakah itu sebuah rasa putus asa seorang ayah yang merindukan anaknya?, jika memang iya maafkan appa telah memiliki perasaan itu.

Ketakutan appa bertambah saat appa menyadari betapa kerasnya kehidupan di luar sana. Tapi appa menemukan foto keluarga kita terpampang di dalam dompetmu, di dalam album kecil yang selalu kau selipkan di dalam tasmu, dan di dalam buku harian yang selalu kau bawa kemanapun kau pergi. Sejak saat itu, kekhawatiran appa akan terlupakan olehmu lenyap begitu saja.

Anak appa begitu mudah berubah, bahkan kau pernah menunjukkan rasa berbagi kasih sayang untuk appa dengan gadis yang selalu kau sebutkan namanya di setiap luapan kisahmu. Lee Donghae, appa begitu ingat keinginan kerasmu meraih mimpi menjadi seorang penyanyi. Hari itu saat pertama kali appa bertanya apa yang ingin kau lakukan ketika kau dewasa nanti, dan kau menjawab untuk menjadi seorang penyanyi, cukup mengiris hati. Appa ingin sekali melihat anak appa menjadi seorang pengusaha meskipun mimpi itu mungkin terlalu tinggi. Itu karena appa ingin melihatmu menjadi orang yang besar. Tapi sekarang appa sadar, bahwa tak harus menjadi seorang pengusaha untuk menjadi besar..

Appa sudah sangat berusaha, Donghae-ah. Melihat senyum bahagiamu saat kau mendapatkan audisimu, melihat tangis bahagiamu saat awal debut yang kau jalani, mendengar janjimu untuk membahagiakan appa, membuat appa berusaha keras untuk bahagia karenamu, karena memang appa sangat bahagia dan bangga padamu.

Anak kebanggaan appa, apakah kau masih menyimpan sapu tangan appa yang appa berikan saat kau terjatuh sepulang sekolah dibawah guyuran hujan itu?. Kau memaksa untuk mengikatkan sapu tangan itu pada keningmu sebagai hadiah untuk memberikan semangat pada ujianmu, bukan melilitkannya pada lukamu yang membiru hari itu. Hati appa sakit saat itu karena kau tak segera mengobati lukamu. Tapi kau selalu membuat appa tersenyum dengan hal-hal seperti itu.

Donghae-ah, harusnya appa mengatakan bahwa appa sedang sakit, tapi bebanmu sudah terlampau berat, appa mengerti itu. Appa dan eomma selalu ingin melihatmu bahagia, bukan meneteskan air mata melihat keadaan appa.

Oleh karena itu, appa selalu berusaha agar kau tetap berada pada duniamu dan sedikit berpaling dari appa. Tapi sepertinya appa tak bisa melakukan itu, karena kau selalu kembali ke rumah dan memijat kaki appa, menyuapkan buah kesemek kering pada appa dan menceritakan hari-harimu saat berada di tengah saudara-saudara barumu. Perlukah kau tahu bahwa appa ingin sekali menangis saat itu?.

Kau dan hyungmu adalah harta appa yang paling berharga, tak ada yang berbeda di antar kalian berdua. Kalian selalu mendapatkan kasih sayang yang sama dan cinta yang sama dari eomma dan appa. Appa ingat betul saat kau pulang dan membawa sebuah kostum untuk penampilan pertamamu. Kau membuka pintu dengan sekali hentak dan berlari memeluk eommamu yang melihatmu dengan tatapan terkejutnya, kemudian berlari pada appa dan mencium kening appa dengan bercucuran airmata. Kau benar-benar tak pernah berubah tentang air mata, apakah kau masih tetap sama?.

Lee Donghae kecil appa telah beranjak dan tumbuh begitu cepat, telah menjadi seorang pria yang mampu menjaga eomma dan juga keluarga barumu kelak. Appa teringat saat melihatmu tersenyum senang dalam perkumpulan orang tua di gedung agensimu, itu membuat hati appa terasa penuh hingga appa tak dapat mengatakan apapun selain mempercayakanmu pada Leeteuk yang akan menjadi hyung keduamu disana. Appa tahu dia akan menjagamu dengan sangat baik untuk appa. Appa percaya itu. Dan sekarang, haruskah appa mempercayakanmu padanya sekali lagi?. Sepertinya tidak perlu, karena kau telah menjadi anak yang sangat baik untuk appa, tentu kau bisa menjaga dirimu dengan baik pula. Dan appa juga bisa menitipkan eommamu kepadamu kali ini, kan?.

Donghae-ah—appa sangat bangga padamu, anakku. Awalnya appa tak pernah percaya akan melepasmu yang selalu bergelayut pada tangan appa atau melompat pada punggung appa. tapi sepertinya saat ini appa tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi. Tariklah kata-katamu tentang terima kasihmu karena appa telah menerangi hidupmu. Karena sejujurnya, appa yang harus berterima kasih padamu karena telah menjadi putera appa yang sangat sempurna. Kaulah yang menerangi hidup appa. Maafkan appa yang harus segera pergi tanpa melihatmu tumbuh di kemudian hari, tanpa menunggumu memiliki keluarga kecil yang bahagia, tanpa menemanimu bermain dengan cucu appa, tanpa melewatkan hari-hari bersama. Satu hal yang harus kau ketahui dan kau ingat. Appa sangat menyayangimu, Donghae-ah… sangat menyayangimu..

–          L.D.Y –

Dengan berakhirnya isi surat itu, airmataku semakin deras mengalir. Appa pernah mengatakan bahwa aku terlihat sangat jelek saat menangis, tapi kali ini aku tak lagi peduli jikapun ada seseorang yang menemukanku saat ini dalam keadaan seburuk ini. Appa, aku merindukanmu.

“Appa… kenapa kau melakukan ini padaku…”

Kenapa appa tidak pernah mengatakan sedikitpun perasaannya padaku. Jadi benarkah jika orang tua tak pernah ingin anaknya tahu kepediahan dan beban hatinya?. Tuhan, apakah aku masih bisa dikatakan anak yang baik. Tidakkah aku gagal karena tidak pernah bisa menjada appaku, Tuhan?. Aku kira gadis itu adalah satu-satunya kenangan indah yang dapat aku temukan disini, tapi aku salah. Karena dia juga membawa kenangan indahku yang lain bersamanya disini.

“Kalian berdua…” Aku semakin tak kuasa menahan tangisanku.

Langit sore mulai menjingga, dan hari ini benar-benar menguras habis semua isi otakku. Kali ini aku tahu apa yang appa rasakan. Bisakah aku menjadi seperti yang appa harapkan. Aku harus berusaha. Aku harus berusaha menjadi diriku yang terbaik. Untuk eomma, keluargaku, hyung, dan keluarga kecil baruku, Seung Hye dan putraku. Lee Dongyeon.

“Appa!. disini..!!”

Suara teriakan seorang anak lelaki memecah keheninganku. Aku mengenali suara itu dan buru-buru ku seka airmataku kemudian melemparkan senyum saat kuliat anak berusia 6 tahun itu berlari ke arahku.

“Appa, kenapa masih disini?. Eomma sudah menunggu. Haelmeoni juga sudah menunggu..!!” ujarnya bersemangat.

Kubelai wajah polosnya, putraku ini benar-benar bagaikan refleksi diriku sendiri. Andai saja appa masih memiliki kesempatan untuk menghirup sejuknya udara musim gugur ini pasti ia akan sangat bahagia dapat melihat bayanganku yang ada dalam diri putraku. Putra kebanggaanku, dan juga cucu kebanggaan appa.

“Wae?. Apakah kau sudah lapar?” tanyaku dan membuat Dongyeon mengerucutkan bibir merah mungilnya.

“Ani.. kata eomma jika tidak segera pergi haelmeoni akan lelah menunggu”

“Baiklah.. kajja..uri Dongyeoni..” kukecup kening Dongyeon singkat dan kuangkat tubuh mungilnya setelah menyelipkan surat dari appa di dalam saku celanaku dan mengalungkan kameraku pada leher Dongyeon.

Putraku, kuberi nama ia sama dengan appa, Lee Dongyeon. berharap kelak ia akan menjadi sosok yang sama tegarnya seperti kakeknya, bukan seperti ayahnya yang hanya bisa meneteskan airmata.

Tepat saat aku berdiri, tatapanku tertuju pada sosok cantik yang berdiri tak jauh dari tempatku dan Dongyeon. Dia mengenakan dress soft peach dnegan rambut ikal panjang tergerainya, tersenyum begitu lembut, senyum yang sama seperti yang aku lihat 10 tahun lalu. Senyum wanitaku yang sangat aku cintai. Dengan segera aku berjalan menghampirinya.

“Selamat ulang tahun, Lee Donghae.. akhirnya kau mengingat apa yang seharusnya kau dapatkan” ujarnya pelan saat aku menurunkan Dongyeon di hadapannya dan membelai rambutnya lembut. Dia begitu cantik hari ini

“Gomawo, jagiya..”

Kukecup keningnya singkat, dan ia hanya tersenyum kecil. Biasanya, saat aku melakukan hal ini ia akan segera memberikan hadiah ulang tahun untukku. Tapi tak apa, surat appa yang telah dijaga dan disimpannya dengan sangat baik itu telah menjadi hadiah terindah ulang tahun kali ini.

“Oppa, kau sudah menghubungi member lainnya untuk berkumpul di rumah?. Aku sudah menyiapkan pesta kecil” katanya dengan wajah bahagia. Kenapa istriku ini terlihat begitu bahagia, tidak biasanya ia bersemangat mengadakan pesta di rumah saat ulang tahun.

“Benarkah?, apa aku harus menghubungi mereka?”

“Tentu… hubungi mereka dan mintalah mereka datang kerumah malam ini untuk merayakan ulang tahunmu dan…”

Ada yang aneh darinya, kutatap wajah cantiknya yang terlihat memerah. “Berikan aku kiss dan aku akan menghubungi mereka..” tawarku. Ia mengerucutkan bibirnya dan melirik sosok kecil di hadapan kami.

“Ya!, oppa… apa kau tidak malu dengan Dongyeon!” aku melirik Dongyeon yang hanya menatap kami bingung.

Tiba-tiba saja terbesit ide gila dalam otakku, kututup mata Dongyeon dengan telapan tangan kananku, dan dengan tangan kiriku kutarik tubuh Seung Hye mendekat. Segera saja ku cium bibir mungilnya lembut. Tak ada pemberontakan dari Seung Hye yang justru mengeratkan pelukannya di pinggangku, tapi tidak dengan Dongyeon.

“Appa!. aku tidak bisa melihat!. Appa…..!! Gelaaaap…”

“Yak!, Yak!. Apa-apaan kalian.. berciuman di depan anak?”

Omo!. Aku segera melepaskan ciumanku juga tanganku pada Dongyeon dan mencari asal suara. Benar saja, aku menemukan eomma yang sedaritadi aku tinggalkan di dalam mobil bersama Dongyeon dan Seung Hye kini ikut mencariku. Ia berdecak dan melebarkan tangannya agar Dongyeon menghampirinya.

“Haelmeoni, appa membuatku tidak bisa melihat!!” adu Dongyeon pada eomma.

“Hei..hei.. appa hanya tidak ingin kau melihat monster” elakku.

“Aigoo, Donghae-ah.. kajja kita pergi, udaranya tidak cukup bagus untuk kandungan Seung Hye” kata eomma yang kemudian menggandeng Dongyeon dan berlalu pergi menuju mobil.

“Ne eomma..!!” mwo!?. Tunggu, tidakkan eomma mengatakan sesuatu?. Kandungan?. Apa?, Siapa yang mengandung?.

“Oppa, ayo..”

Kutarik tangan Seung Hye dan menatapnya intens. “Kau?. Hamil..”

Dia hanya tersenyum dan mengangguk pelan kemudian menundukkan kepalanya. Jadi inikah alasannya dia mengadakan pesta di rumah, selain merayakan ulang tahunku juga akan merayakan kehamilannya. Tuhan.. kado indah macam apalagi ini yang kau berikan padaku.

“Benarkah!. Ahahahaha…” kupeluk tubuhnya dan kucium keningnya. Betapa bahagianya aku mendengarnya. Istriku memang selalu memberikan kejutan tak terduga padaku.

“Terima kasih Seung Hye-ah.. terima kasih karena telah menjadi istriku, menjadi ibu dan Dongyeon, dan menjadi menantu yang sangat sempurna untuk eomma dan appa” ia kini menatapku dengan senyum lembutnya, tangannya terangkat membelai wajahku, begitu hangat.

“Kau tak perlu mengatakannya, oppa. Itu sudah menjadi kewajibanku..” jawabnya yang membuat hatiku terasa begitu sejuk.

“Oppa..” panggil Seung Hye saat kami akan beranjak. Ia kemudian menarik tangan kiriku dan meletakkannya perlahan di atas perutnya, kuraba perutnya perlahan. Tempat dimana calon bayiku berada, ia pasti bisa merasakan sentuhanku.

“Dia juga tahu apa yang tadi kita lakukan, jadi seharusnya kita melakukannya seperti ini..” aku mengerti maksudnya, dengan perlahan Seung Hye menuntun tangan kiriku untuk menutup kedua mataku sendiri dengan posisi tangannya masih berada di atas tanganku. Seketika kurasakan sebuah kecupan hangat menyentuh bibirku begitu lembut.

“Haruskah kita pulang dan melanjutkannya di rumah” gumamku yang membuat Seung Hye menghentikan ciumannya kemudian menatapku garang.

“Apa kau ingin menjadi anak durhaka untuk abeoji!” ia mengerucutkan bibirnya kemudian membalikkan tubuhnya cepat “Kita harus segera pergi ke pusara abeoji, kemudian berbelanja, lalu menyiapkan makanan untuk memberdeul, dan—”

Aku menatap punggungnya yang mulai menjauh dan ia yang masih terus bergumam ini dan itu, dia memang selalu punya sejuta alasan untuk mengalihkan pembicaraan sejak dulu kala jika ia merasa sangat terdesak dan kehabisan kata-kata. Tapi hal itu justru membuat istriku berbeda dari yang lainnya. Dan aku benar-benar sangat mencintainya. Han Seung Hye, yang telah berhasil kurubah menjadi Lee Seung Hye.

Terima kasih Tuhan, atas semua hadiah ulang tahun terindah ini, kau telah memberikanku orangtua yang begitu menyayangiku tanpa henti, seorang hyung yang begitu menjaga dan menyayangiku, istri yang begitu sempurna, putra yang sangat tampan dan baik, juga keluarga baruku, Super Junior yang selalu menjadi bagian kehidupanku. Aku tak akan pernah melupakan semua ini. Terima kasih appa, karena telah menjadi sosok pemimpin terbaik bagiku, hyung, dan eomma. Terima kasih untuk semuanya. Aku mencintai kalian..

-END-

Advertisements
[Oneshot] Autumn Memories

One thought on “[Oneshot] Autumn Memories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s