As High as Eiffel Tower – Chapter 1

aas

Karena setiap ekspresi yang ia buat, membuatnya terlihat begitu sempurna dimataku. Dan setiap hembusan nafasnya membuatku tersadar bahwa ia benar-benar nyata.

***

Lee Chaeyeon’s POV

“Aku baru menyadari bahwa segala sesuatu

Benar-benar telah diatur…

Termasuk cinta,

Tuhan telah menciptakan takdir setiap orang.

Bahkan sejak mereka belum dilahirkan atau sesudah mereka mati..”

Aku memang belum merasakan kerumitannya, namun perasaanku cukup peka untuk menyadari betapa rumitnya cinta.

Kututup buku harian dark brown-ku dengan pita dark red yang mengunci sampulnya perlahan. Aku memang lebih suka menuangkan semua yang aku rasa dalam buku harianku. Tapi sekarang aku tidak beminat lagi untuk bercerita, termasuk untuk menceritakan betapa kesalnya aku saat ini menunggu seseorang di taman ini seorang diri dalam balutan salju putih yang menutupi Seoul begitu lebat dan dingin.

“Permisi..”

Haahh~ aku pernah mendengarnya, banyak orang mengatakan bahwa menunggu adalah hal yang paling membosankan. Dan ternyata apa yang mereka katakana memang benar.

“Permisi!?”

“Ah!?. Ya?” seseorang berhasil membawaku kembali pada alam kesadaranku dan sedikit terlonjak, aku-pun mendongak dan menatap sumber suara.

“Bisakah aku bertanya sesuatu?”

Kuturunkan sedikit syal yang melilit leher hingga bibirku dan menatap pria yang berdiri dengan coat hitam dan celana jeans dihadapanku tersebut secara menyeluruh. Aku memang tidak pernah memperhatikan penampilan seseorang, apalagi seseorang yang tidak aku kenal. Tapi entah kenapa pria ini seolah menuntutku untuk merinci penampilannya. Wajahnya terlihat begitu dingin, persis musim yang sedang bergulir di Seoul saat ini. Musim dingin. Tak ada ekspresi yang keluar dari wajahnya. Tapi sama sekali tak berpengaruh pada ketampanannya.

Jogiyo[1]~”

“Ah!?. Mianhabnida[2].. bisa kau mengulangi kata-katamu?” tanyaku. Terlihat raut wajah bingung tergambar dari mimik wajahnya.

Mwo?[3]. Aku bahkan belum mengatakan apapun” aku melotot salah tingkah. Apa!?, benarkah?. Ya Tuhan bodohnya aku.

“A-ah~ Maksudku, apakah ada yang bisa aku bantu?” tanyaku sekali lagi, sepertinya kali ini pertanyaanku benar.

Pria itu terlihat merogoh saku coat yang ia kenakan dan mengeluarkan secarik kertas dari dalam sana. Diberikannya kertas tersebut padaku.

“Apakah kau tahu tempat itu?” katanya. Aku mengangguk pasti karena aku sangat mengenali tempat yang ia maksud.

Ne, kau hanya perlua berbelok ke kanan tiga blok dari taman ini, 100 meter dari sana kau akan menemukannya”

“Tiga?”

Ne.. kau lihat lempu merah itu?” aku berdiri dan menunjuk salah satu lampu merah yang berada 200 meter dari tempatku saat ini. “Itu adalah belokan pertama, kau hanya perlu menemukan dua belokan lagi dan kau akan menemukannya” jelasku.

Terlihat ia mengerti dan kuberikan kembali kertas tersebut. Ia menatapku dalam diam sesaat membuatku terpaku dan terpanah dalam waktu yang sama. Tidak, harusnya aku menyadarinya sejak tadi bahwa pria ini amat sangat berlebihan, maksudku wajahnya terlalu menyilaukan. Ya Tuhan, Lee Chaeyeon apa yang kau pikirkan.

“Bisakah kau mengantarku?” katanya menyadarkanku sekali lagi.

“Ah, Mianhabnida.. tapi, aku sedang menunggu seseorang sekarang” kataku.

“Baiklah, terima kasih atas informasinya.” Ia membungkukkan tubuhnya sedikit dan berlalu menuju mobil Audi putih yang terparkir tak jauh dari kami.

Ne..” jawabku entah berbicara pada siapa mengingat pria itu sudah tak terlihat lagi olehku.

Tak butuh waktu lama untuk pria itu menyalakan mesin mobilnya dan meluncur ke tempat yang ia tuju. Sempat membuatku terpanah, ya.. setidaknya aku mempunyai hiburan yang cukup menyenangkan selagi menunggu oppa[4] kesayanganku yang tak kalah tampannya dari pria tadi, namun sayangnya sangat bodoh dan menyebalkan. Membuatku menunggu hampir dua jam di musim dingin seperti ini.. awas saja kau Lee Donghae!!. Aku, Lee Chaeyeon bersumpah tidak akan mau menunggumu lagi jika sampai 5 menit kau tak muncul!.

 

Author’s POV

Grand Love Café, Gangnam-gu, Seoul.

‘Kliiing’

Lentingan lonceng mini yang berada pada pengait pintu cafe mewah yang berada di kawasan Gangnam tersebut terlihat bergetar akibat dorongan pintu yang terbuka.

Eoseoosipsio~[5]

Terlihat seorang gadis muda yang berdiri di depan kasir membeikan salam pada seorang tamu yang baru saja masuk. Hanya ada sedikit respon anggukan, namun hal itu cukup ampuh untuk membuat beberapa gadis yang berada di dalam cafe tersebut terperangah. Pria tersebut terlihat mencari sesuatu, ia kemudian mengeluarkan ponsel hitamnya untuk menghubungi seseorang.

Neo eodiseo?[6]

“………..”

Beberapa detik kemudian pria itu memutar kepalanya dan tatapannya terhenti pada meja yang berada di sudut cafe tersebut. Terlihat seorang gadis tengah melambaikan tangan padanya. Sontak beberapa pelanggan wanita cafe tersebut yang tengah sibuk menikmati makan siang mereka juga pelayan cafe memasang wajah kecewa mereka saat menyadari pria tersebut sedang bersama wanita lain.

Pria itu berjalan mendekat pada orang yang ia cari. “Kau sudah lama?” tanyanya. Gadis itu mengangguk dan mengecup pipi pria tersebut hangat.

“Aniya, gwaencanha[7]” kata gadis itu manja. “Kau ingin minum sesuatu?” tanyanya. Di hadapannya tu telihat membolak balik buku menu sesaat.

“Tidak ada” ada raut kecewa teukir di wajah gadis itu tapi kemudian ia menyunggingkan kembali senyum manjanya.

Oppa~”

“Sudahlah, Saena.. aku tidak punya banyak waktu. Bisakah kau lebih cepat dan berbicara terus terang”

“Tentang pernikahan kita. Eomma ingin oppa menemaniku pergi melihat baju pengantin kita..” kata Saena.

Pria tu menatapnya enggan dan perlahan melepaskan gamitan manja tangan sang gadis dari lengannya.

“Aku sangat sibuk, tidak bisakah kau meminta tolong pada Minhee?” katanya.

Shireo![8].” tolak gadis itu sambil mengerucutkan bibirnya. “Aku hanya ingin pergi bersama oppa!”

Hening sejenak, pria itu memalingkan wajahnya pada jendela besar cafe yang terpampang di hadapannya.

“Terserah” ujarnya benar-benar tak peduli.

Pria itu terdiam cukup lama hingga tatapannya terpaku pada sosok gadis yang baru saja turun dari dalam sebuah mobil sedan hitam yang terparkir tepat di luar jendela tempatnya berada. Gadis itu dengan raut kesalnya sedikit berlari masuk ke dalam café sementara seorang pria terlihat mengekor di belakangnya.

“Oppa, kau terlambat, aku akan melaporkannya pada eomma karena kau masih berhubungan dengan gadis itu!” omelnya.

Kyuhyun mengikuti setiap gerakan gadis itu tanpa sedetikpun melepaskan kontak matanya.

“Aku hanya terlambat beberapa menit, Chaeyeon-ah— baiklah aku akan mentraktirmu tteog, tapi kau harus berjanji tidak mengatakan apapun pada eomma.. bagaimana?”

“Shireo!” gadis itu mengalihkan pandangannya cepat dan detik itu juga kedua mata indahnya membulat saat menyadari sosok yang ada tak jauh darinya. Pria itu tengah menatapnya dalam diam.

“Kau—” gumam Chaeyeon hanya dengan gerakan bibir kemudian tersenyum. Mata gadis itu kontan terbelalak saat pria yang disapanya tiba-tiba saja berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri dirinya jika saja ia cukup percaya diri untuk merasa demikian. Namun nyatanya pria itu memang kini benar-benar berdiri tepat di hadapannya untuk yang kedua kalinya.

Gadis itu mengerjapkan matanya bingung saat tangan kanannya tertarik hingga membuatnya terpaksa harus mengekor langkah pria yang ia temui beberapa menit yang lalu secara tidak sengaja itu.

“Dia adalah kekasihku. Katakan pada kedua orang tuamu, apapun yang terjadi kita tidak akan pernah menikah” ujar pria itu dingin tepat saat ia dan Chaeyeon berada di depan gadis yang duduk manis tak bergeming melihat kekasihnya menarik gadis lain dan membawa padanya.

“Kajja, kita pergi” ujar pria itu singkat dan kembali menarik tangan Chaeyeon untuk berbalik dan keluar dari cafe.

“Oppa!. Oppa~!!!”

Lee Donghae yang sejak tadi mengekor sang adik bahkan tak bergeming karena tak tahu harus melakukan apa pada Chaeyeon yang dengan cepat melesat dari balik pintu cafe.

Kyuhyun dan Chaeyeon segera masuk ke dalam mobil yang langsung melesat pergi meninggalkan kawasan cafe tersebut.

“Jogiyo—”

“Mianhae, telah merepotkanmu. Tapi, terima kasih untuk bantuannya” ucap pria tersebut datar.

“Mwo?. Ya—siapa kau, kita bahkan baru saja bertemu beberapa menit yang lalu dan kau—”

“Aku Cho Kyuhyun, kau tidak mengenalku?” Chaeyeon terdiam sesaat dan mengamati wajah pria yang duduk di sampingnya itu.

“Kau—bukankah kau putra dari…..”

Pria itu menyunggingkan smirknya membuat Chaeyeon menutup mulutnya tak percaya dan hanya mampu menatap sosok tampan yang tengah berkonsentrasi dengan kemudinya tersebut.

To Be Continue


[1] Permisi

[2] Maaf (Formal)

[3] Apa?

[4] Kakak lelaki (untuk pr yang lebih muda)

[5] Selamat Datang

[6] Kau dimana?

[7] Tidak apa-apa

[8] Tidak mau

 

Advertisements
As High as Eiffel Tower – Chapter 1

2 thoughts on “As High as Eiffel Tower – Chapter 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s