As High As Eiffel Tower – Chapter 2

aas

 

Tittle : As High As Eiffel Tower – Chapter 2

Genre : Romance, Sad

Length : Series

Rated : Universal

Cast :

–          Cho Kyuhyun

–          U-Know Yunho

–          Lee Chaeyeon

–          Lee Donghae

–          Other Cast

Author : Irma Yunita Agustina (Kyura)

Twitter : @irmaUnitaA

Disclaimer :

Masih dengan FF yang sama. Ini adalah part kedua, maaf jika kurang memuaskan, dan juga untuk typo. Jangan lupa tinggalkan comment dan juga likenya ya~^^. Happy reading~~^^

2 Weeks ago…

Pagi yang indah di Los Angeles. Seorang pria tampak tengah memasangkan satu persatu kancing kemejanya, ia berdiri tepat di hadapan cermin besar yang menampakkan seluruh bagian tubuhnya yang berpostur tinggi dan menawan. Pria itu menghentikan gerakannya saat mendadak pintu kamarnya terbuka.

“Yunho hyung…” sapa Kyuhyun yang yang menyembulkan kepalanya di balik pintu.

“Oh, Kyu.. kau sudah bangun?. Ada apa?” Tanya pria itu yang kemudian mendudukkan diri di atas tempat tidurnya. Kyuhyun masuk dan memilih untuk berdiri di dekat jendela besar tak jauh dari tempat tidur.

“ Satu minggu lagi aku akan kembali ke Korea, apa kau tidak ingin ikut bersamaku?” tanya Kyuhyun sambil memainkan ponselnya dan menatap sang sepupu dengan wajah cerah.

Yunho berbalik menatap Kyuhyun dan tersenyum sesaat. “Temui kekasihku untukku” ujarnya kemudian.

Kyuhyun terdiam dan tampak sedang berusaha mencerna kata-kata yang keluar dari bibir Yunho.

“Kenapa aku?” tanya Kyuhyun akhirnya.

“Karena dia pernah melihatmu”

“A-apa?. Kapan?. Dimana?. Apakah dia tinggal disini?” berondong Kyuhyun dengan ekspresi yang sulit ditebak dan segera dipotong Yunho.

“Aniya..beberapa bulan yang lalu aku pernah menunjukkan fotomu dan menceritakan silsilah keluarga kita. Dan kau—”

“Aku kenapa hyung?”Tanya Kyuhyun penasaran.

“Tidak, sebenarnya aku sudah tahu sejak lama bahwa dia—”

“Kyuhyun-ah, cepat turun dan sarapan. Yunho-ya, kau juga!” teriakan seorang wanita berhasil memotong ucapan Yunho yang secara otomatis menghentikan gerakan bibirnya.

“Baiklah bibi!” teriak Kyuhyun. Pria itu menoleh dan menatap Yunho masih dengan raut penasaran.

“Apa yang ingin kau katakan tadi, hyung?” tanya Kyuhyun memastikan.

Yunho tersadar dan langsung menggelengkan kepalanya cepat, “Tidak tidak, cepatlah turun dan bergegaslah ke kantor. Nanti aku menyusul” katanya.

“Baiklah, apa kau ingin berangkat bersama, hyung?” tanya Kyuhyun.

Yunho menggeleng, “Tidak, aku harus bertemu seseorang sebelum ke kantor.”

“Geurae… aku pergi dulu, hyung. Sampai bertemu nanti”

Kyuhyun melangkahkan kakinya pergi dan meninggalkan Yunho yang masih duduk diam diatas tempat tidurnya. Pria itu menatap datar jendela kaca besar dimana beberapa detik yang lalu Kyuhyun baru saja berdiri disana.

“Mianhae, Kyu… ” lirih Yunho.

 

“Kau—bukankah kau putra dari…..”

“Ya ya ya..tidak perlu kau sebutkan sedetail itu, cukup mengenalku sebagai saudara Yunho hyung saja. Harusnya kau mengenaliku sejak tadi, Lee Chaeyeon-ssi” jawab Kyuhyun.

“Bagaimana bisa aku mengenalimu sementara aku hanya pernah melihat fotomu yang diperlihatkan Yunho oppa padaku. Cho Kyuhyun….ssi?” gumam Chaeyeon ragu.

“Kyuhyun saja, panggil aku Kyuhyun” sela Kyu.

“Kyuhyun?. Dan lagipula kenapa kau tidak mengatakan apapun saat kita bertemu di taman tadi” lanjut Chaeyeon.

“Aku hanya mengujimu, dan ternyata kau benar-benar tidak mengenaliku” Kyuhyun berdecak dan menggoda dengan nada kecewa. “Ah ya, Yunho hyung tidak bisa kembali dalam waktu dekat ini. Jadi dia memintaku untuk menemuimu” jelas Kyuhyun. Tanpa sadar pandangannya tertuju pada tangan kiri Chaeyeon yang berada diatas tas hitam yang tengah berada diatas pangkuannya. Sebuah cincin putih melingkar sangat pas pada jari manis Chaeyeon. Wajahnya seketika berubah.

“Dia sudah menghubungiku, tapi dia tidak mengatakan apapun tentang kedatanganmu. Dan lagipula tadi—”

“Soal tadi, terima kasih atas bantuanmu, kakak sepupu ipar” potong Kyuhyun.

Chaeyeon menatap Kyuhyun dalam, ia merasa ada sesuatu dengan pria yang sekarang duduk di hadapannya itu. Tapi ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Apakah aku setampan itu sampai kau tidak berkedip menatapku?” celetuk Kyuhyun yang sukses membuat Chaeyeon salah tingkah.

“Apa?. Tidak, siapa yang menatapmu” elak Chaeyeon yang kemudian memposisikan kembali tubuhnya menghadap ke depan.

‘Tuhan, aku sudah memiliki tunangan..’ batinnya.

“Kau sudah makan?. Atau ada sesuatu yang ingin kau makan?” tanya Kyuhyun dalam hening.

“Tidak ada, lebih baik kau mengantarku pulang. Ini rumahku—“

Tangan Chaeyeon terulur dan mengetikkan alamat rumahnya pada GPS yang berada di dashboard mobil Kyuhyun. Pria itu sesekali melirik gadis yang tengah sibuk dengan kegiatannya itu, hingga tanpa sadar ia teringat sesuatu.

“Kau yakin akan menikah dengan Yunho hyung?” tanya Kyuhyun yang sukses membuat Chaeyeon menegakkan tubuhnya.

“Eh?” gadis itu berusaha memastikan pendengarannya akan pertanyaan Kyuhyun yang singkat tapi mampu membuat suasana berubah.

“Maksudku, apakah kau sudah siap menikah dengannya”

“Entahlah… sepertinya Yunho oppa mulai berubah” gumam Chaeyeon sambil memainkan cincin pertunangannya dengan Yunho 1 tahun yang lalu.

“Kenapa?”

“Aku sendiri tidak tahu, hanya saja dia menjadi berbeda. Seperti ada yang disembunyikannya”

Kyuhyun menarik nafas, “Dia sangat mencintaimu”

“Aku tahu itu… dan itu justru menyakitiku” lirih Chaeyeon.

“Bagaimana bisa?. Dia mencintaimu dan itu menyakitimu?”

“Hubungan jarak jauh ini membuatku tidak bisa mengetahui seberapa besar cintanya. Apakah semakin bertambah setiap harinya atau justru berkurang” jawab Chaeyeon yang kemudian mengerjapkan matanya seolah tersadar.

“Apa kau tidak ingat sesuatu?. Mungkin tentang kenangan lainnya yang jauh lebih membahagiakan dan tidak menyakitkan?”

“Kenangan?. Entahlah, apakah aku harus melakukannya?. Hei, kenapa kau terus saja bertanya?. Sebentar lagi kita sampai di rumahku”

Tak ada jawaban dari Kyuhyun. Benar saja, tak sampai 5 menit mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat didepan sebuah rumah mewah bernuansa modern minimalis. Chaeyeon yang baru akan melangkah keluar mobil mendadak menghentikan langkahnya.

“Kau tidak ingin masuk?. Mampirlah..” tawarnya pada Kyuhyun yang dibalas dengan gelengan.

“Tidak, lain kali saja aku akan mampir.” Jawab Kyuhyun singkat.

Chaeyeon mengangguk dan turun dari mobil putih tersebut. Sesaat ia membalikkan tubuhnya dan merundukkan tubuhnya untuk melihat Kyuhyun yang berada di dalam mobil.

“Gomawo… Jalga~(selamat tinggal)

“Selamat malam, nona Lee…”

Kaca mobil perlahan tertutup, mobil Kyuhyun seketika melesat dengan kecepatan sedang meninggalkan kawasan rumah Chaeyeon dan juga Chaeyeon yang masih berdiri mematung di tempatnya.

“Selamat malam…” lirih gadis itu yang terdengar seperti sebuah bisikan.

***

Cho Kyuhyun’s POV

Aku baru saja mengantarkannya. Ya, gadis yang akan menjadi kakak sepupu iparku. Gadis itu lebih cantik dibandingkan dengan foto yang ditunjukkan Yunho hyung padaku. Dia memiliki kulit yang bersih seperti bayi, rambutnya tergerai bebas dan pipinya merona. Benar-benar sempurna. Oh tidak, apa yang sedang aku pikirkan, sadarlah dia adalah tunangan sepupumu, Kyu.

‘Drrtt….’

Kutatap ponselku yang tergeletak di sampingku. Ada nama ‘Eomma’ disana. Dengan cepat aku menepi dan segera ku tekan tombol hijau pada benda hitam dan menempelkannya pada telinga kananku.

“Ya, eomma?”

“….”

“Tidak, aku baru saja bertemu dengannya. Ya,tapi aku memutuskan hubungan kami. Maafkan aku, eomma ”

“….”

“Entahlah, baiklah..”

“….”

“Eomma, tunggu!. Aku juga bertemu dengannya, kenapa eomma menyembunyikan semuanya?. Eomma, aku—”

“….”

“Tapi sampai kapan aku akan membiarkannya?. Dan sepertinya aku tidak bisa menguasai diriku, eomma”

“….”

“Aku menginginkannya..”

Ku akhiri komunikasi mengecewakan tersebut. Ada rasa kesal dalam diriku, kenapa aku harus mendapatkan kesialan beruntun seperti ini. Aku benar-benar tidak bisa bertahan. Maafkan aku…

***

Lee Chaeyeon’s POV

Aku melangkahkan kakiku memasuki rumah. Kulihat eomma dan appa tengah duduk berdua di ruang keluarga dan menikmati quality time mereka bersama. Sempat terpaku dan memikirkan flashback saat aku dan Donghae oppa masih kecil. Kami sering duduk bersama dan menikmati acara televisi, tapi sekarang semua berbeda. Donghae oppa dengan kesibukannya di perusahaan milik keluarga kami, dan aku dnegan kesibukanku di rumah sakit sebagai seorang dokter memaksa kami kehilangan momen berharga bersama keluarga.

“Chaeyeon-ah.. kau sudah pulang, jagiya”

Suara eomma menyambut kedatanganku. Seketika aku berhambur mendekat dan memeluknya.

“Eomma—bogosipeoyo…” manjaku dalam pelukannya.

“Oh waegurae?.” Eomma tampak terkejut tapi tetap saja ia membalas pelukanku dan membelai rambutku penuh sayang.

“Maafkan aku yang tidak pernah memiliki waktu bersama lagi karena kesibukanku” gumamku, suaraku mulai bergetar dan rasanya mataku mulai berkaca-kaca.

“Aigoo… apa yang kau katakan. Kesibukanmu justru membuat eomma bahagia karena kini putri eomma benar-benar menjadi seperti yang eomma harapkan. Tumbuh menjadi seorang wanita cantik dan menjadi seorang dokter. Dan yang lebih penting keadaanmu semakin membaik”

“Gomawo eomma..neomu gomawo” pelukanku semakin erat, tapi pada detik yang sama suara berat appa terdengar.

“Jadi begitu, ya. Hanya eomma saja yang mendapatkan pelukan”

Aku segera membalikkan tubuhku dan beralih berhambur memeluk appa.

“Appa saranghae~~!!!”

“Nado, jagiya. Omong-omong dimana oppa-mu?. Kenapa belum pulang?” tanya appa. kulepaskan pelukanku dan menatapnya kikuk.

“Ah, umm… oppa masih ada di cafe dan katanya masih harus kembali ke kantor untuk mengambil beberapa berkas.” Dustaku yang sebenarnya tak tahu dimana appaku setelah aku meninggalkannya di cafe itu. Mianhae appa…

“Begitu, ya. Oh ya, besok akan ada tamu appa yang datang. Karena dia menginginkan pemeriksaat kesehatan jadi appa ingin kau membantunya besok.”

“Baiklah appa, kami akan bertemu di rumah sakit” jawabku yang diikuti gelengan appa.

“Tidak, tidak. Kau akan bertemu dengannya dirumah dan kalian bisa berangkat bersama. Dia masih belum terlalu mengerti Seoul” jelas appa. Aku mengerti, baiklah jadi aku akan pergi bersama teman appa besok.
“Baiklah, appa..”

“Geurae, pergilah ke kamar dan segeralah tidur. Kau ada jadwal operasi besok pagi kan?” kata appa. Ya Tuhan, hampir saja aku lupa.

“Oh, bagaimana appa bisa tahu?” candaku.

“Apakah appa tidak terlihat seperti seorang dokter sekarang?”

“Hahaha..baiklah, baiklah…selamat malam eomma, appa.” kukecup pipinya kilat dan segera berlari meniki tangga menuju kamarku.

‘Blak’

Kututup pintu kamar dan segera kuhempaskan tubuhku ke atas tempat tidur kesayanganku. Ada boneka beruang disana, kuraih dan kupeluk boneka berwarna coklat tua tersebut. Seketika aku teringat pada seseorang yang berada jauh disana, dan aku merindukannya entah kenapa. Yunho oppa.

Kurogoh tasku dan menemukan ponsel putihku disana, segera aku ketikkan deretan nomor yang sudah sangat aku hafal di luar kepala dan membukan kotak pesan untuk menuliskan pesan.

To : Yunho oppa

–          Oppa, apa yang sedang kau lakukan?. Apa kau sudah tidur?. Aku merindukanmu, oppa

‘SEND’

Terkirim. Aku berharap pesan itu segera dibalasnya. Aku bangkit dan terduduk masih di atas tempat tidur. Tanpa sadar tangan kananku memainkan cincin yang melingkar di jari manis tangan kiriku. Sampai kapan semua akan bertahan dengan perubahannya seperti ini.Apa yang terjadi sebenarnya, kenapa aku merasa—

‘Ting’

Aku terkesiap dan dengan sigap meraih ponselku yang tadi kulemparkan di belakangku.

From Yunho Oppa

–          Aku sedang bertemu dengan relasi, aku akan menghubungimu saat ada waktu. Jagalah diri dan cepatlah tidur, aku tahu disana sudah malam –

“Mwoya… apa-apaan ini?. Jawaban yang amat sangat memuaskan!”

Kembali kulempar ponselku dan kuhempaskan lagi tubuhku. Kupandang langit-langit kamarku gamblang. Apa sesuatu sedang terjadi padanya?. Apakah aku harus menyusulnya ke Amerika?. Ah molla (tidak tahu)!, memikirkannya membuatku pusing. Lebih baik aku tidur.

Keesokan paginya…

06.01 a.m KTS

Aku sedang berusaha memoleskan sedikit makeup pada wajahku yang menurut orang lain terlihat pucat ini. Sesekali kulirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Aku teringat bahwa aku memiliki janji dengan teman appa, mungkin dia sudah datang karena pasti appa memberitahunya bahwa aku ada jadwal operasi pagi ini dan harus berangkat lebih pagi.

Dengan segera kuraih tasku dan keluar dari kamar menuju ruang makan. Terlihat eomma, appa, dan juga Donghae oppa tengah duduk manis menikmati sarapan.

“Selamat pagi” sapaku dan langsung menarik kursi yang berada tepat disamping Donghae oppa. Aku meliriknya yang kurasa juga sedang mengamatiku. Benar saja, dia menatapku aneh penuh selidik sementara tangan kirinya terus saja mengoleskan selai stroberi pada selembar roti yang ada di tangan kanannya.

“Apa yang kau lakukan semalam?. Siapa pria itu?” tanyanya seolah berbisik.

Aku hanya menggeleng dan meraih selai jeruk favoritku dan selembar roti di hadapanku.

“Yak!, siapa dia?” tanyanya sekali lagi. Kali ini aku menatapnya tajam.

“Aku tidak tahu” balasku tak kalah pelan.

“Kenapa dia menarikmu seperti itu, pasti ada sesuatu diantara kal—”

“Lee Donghae, sampai kapan kau akan mengoleskan selai itu pada rotimu?. Kau ingin memakan semuanya?” tiba-tiba saja terdengar suara eomma yang kontan membuatku dan Donghae oppa menoleh dan menatapnya.

“A—ah, maaf, eomma” kata Donghae oppa. Aku hanya terkikik geli melihatnya.

“Lagipula apa yang kalian bicarakan sampai berbisik seperti itu?” tanya eomma.

“Tidak ada eomma” jawabku.

“Cepat habiskan sarapan kalian, jangan sampai kalian terlambat”

Kami kembali sibuk dengan makanan di hadapan kami, tapi sesaat kemudian terdengar suara mobil yang sepertinya berhenti tepat di depan rumah kami. Seketika appa berdiri dan beranjak pergi.

“Ah, itu dia..” gumamnya sambil berlalu.

“Siapa?” tanya Donghae oppa kini dengan suara normal.

“Teman appa. Hari ini kami akan pergi bersama untuk memeriksakan kesehatannya, jadi aku berangkat bersamanya” jelasku.

“Pria atau wanita?”

“Entahlah”

“Hahaha.. benarkah,apakah kau sudah sarapan?. Ayo makanlah dengan yang lainnya—”

Terdengar suara tawa appa yang sepertinya menuju kemari.

“Jagiya, ini banana milk” eomma menyodorkan segelas susu padaku.

“Gomawo, eomma..”

Aku mulai meneguk perlahan segelas susu di tanganku. Sambil sesekali melirik jam tanganku.

“Chaeyeon-ah, perkenalkan, dia adalah—”

Aku refleks mendongak dan menatap sosok yang kini berdiri tepat di seberang meja makan bersama appa. Terpaku.

“Selamat pagi..”

“Kau!?” / “Kau!?” pekikku dan Donghae oppa bersamaan. Hampir saja aku tersedak susu yang sedang kutenggak andai saja aku tidak dapat menguasai diriku. Kenapa dia?.

Cho Kyuhyun, dia menyunggingkan senyum anehnya lagi. Senyum yang sama seperti yang aku lihat semalam saat dia mengantarku pulang.

“Kalian sudah saling kenal?” tanya appa penasaran.

“Ani, maksudku..kami baru saja bertemu” jawabku, sementara Donghae oppa menatapku tak kalah kaget.

“Haha..baguslah. jadi, apakah kalian akan pergi sekarang”

“Ne, ajussi (Paman), lebih baik kami pergi sekarang” kata pria itu. Tatapan itu… kenapa mereka berdua terlihat begitu akrab?. Atau hanya perasaanku saja?.

“Chaeyeon-ah… palli”

Sial, lagi-lagi aku melamun, kenapa akhir-akhir ini aku jadi linglung. “Ne appa..”

“Eomma, oppa, aku pergi..”

Pamitku pada eomma dan Donghae oppa. Kemudian aku segera keluar dari rumah menuju mobil yang terparkir tepat didepan pintu rumah diikuti appa dan Kyuhyun tentunya.

“Baiklah ajussi, sampai bertemu lagi..”

“Geurae.. datanglah kemari saat kau ada waktu” kata appa. aku hanya menatap mereka berdua enggan. Jadi sekarang siapa yang anak appa?.

***

Author’s POV

“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Kyuhyun saat mobilnya melaju di jalanan lengang Seoul.

“Bagaimana bisa kalian saling mengenal?” selidik Chaeyeon.

“Siapa?” tanyanya dengan wajah polos.

Nae appa (Ayahku)

“Tentu saja aku mengenalnya, bahkan sudah sejak aku kecil” jawaban itu berhasil membuat Chaeyeon semakin penasaran.

“Benarkah?. Bagaimana bisa begi—”

“Kau ingin makan sesuatu?” potong Kyuhyun.

“Mwo?”

“Kulihat kau tidak menghabiskan sarapanmu, jadi apakah kau ingin makan bersamaku?.” Tawar Kyuhyun.

“Tidak, aku sudah kenyang. Lagipula aku ada jadwal operasi 1 jam lagi” jawab gadis itu ringan.

Tanpa disadarinya, Kyuhyun sesekali melirik dan mengamati sosok cantik itu. Kyuhyun memang tahu siapa gadis yang ada disampingnya itu, siapa dia jika nanti pertunangan gadi itu dengan Yunho terjadi. Dia sangat sadar akan hal itu, dan kenyataan tersebut justru membuat moodnya berantakan pagi tu.

***

Seoul National University Hospital, Seoul, South Korea

“Kau yakin tidak ingin makan sesuatu?” tanya Kyuhyun sekali lagi memastikan saat ia dan Chaeyeon tengah berjalan menyusuri koridor menuju ruangan Chaeyeon.

Gadis itu menggeleng, “Aku sudah kenyang, tuan Cho”

“Kenapa kau selalu menolak ajakanku untuk makan?. Aku tidak akan meracunimu”

“Aihh..sudah kubilang aku masih kenyang”

“Tapi aku lapar, nona Lee” rengek Kyuhyun.

“Pergilah ke cafetaria yang ada di lobby, kau bisa memakan sesuatu disana”

“Kau tega membiarkanku makan seorang diri?”

Chaeyeon yang sedari tadi berjalan satu langkah lebih cepat didepan Kyuhyun menghentikan langkahnya dan berbalik. Kini Chaeyeon menatap pria dihadapannya itu dalam diam dan mata memicing.

“Baiklah, baiklah kau harus segera pergi, kan?. Aku mengerti, tidak perlu menatapku seperti itu. Aku akan menunggumu saja” Kyuhyun mengalah.

“Terserah kau saja.”

Mereka berdua kembali berjalan dan menghentikan langkahnya tepat didepan sebuah ruangan. Chaeyeon-pun membuka pintu ruangan dan segera masuk ke dalam. Ia meletakkan tasnya diatas meja dan meraih jas putihnya yang tergantung pada pengait baju. Gadis itu tampak berbeda saat memakai jas putih tersebut.

“Baiklah, Kyuhyun-ssi. Nanti dokter yang akan memeriksamu akan datang kemari, aku sudah menghubunginya. Kau bisa menunggunya disini, jika kau lapa, seperti yang aku katakan tadi kau bisa pergi ke cafetaria atau menghubungi cafetaria agar mengantarkannya kemari. Nomornya ada disini” jelas Chaeyeon panjang lebar sambil menunjuk sebuah kertas yang ada diatas meja kerjanya. “Aku harus segera pergi” lanjutnya.

Chaeyeon melangkah sambil mengenakan jas dokternya, tanpa menoleh ia membuka pintu, disaat yang sama suara pria yang terus memperhatikannya itu memanggil.

“Chaeyeon-ssi..”

Chaeyeon menoleh sambil memegang daun pintu.

“Cappucino atau…”

“Ice Americano” potong Chaeyeon sebelum Kyuhyun sempat melanjutkan kata-katanya.

‘Kau tidak berubah’ batin Kyuhyun miris.

1 Jam….

2 Jam….

3 Jam….

Waktu terus berlalu. Chaeyeon masih sibuk dengan operasi besarnya di ruang operasi, dan Kyuhyun tengah diperiksa oleh seorang dokter di ruangan lain.

1 jam kembali berlalu cepat, Chaeyeon yang baru saja menyelesaikan tugasnya kini terduduk lelah didepan sebuah ruangan. Ruangan dimana Kyuhyun tengah memeriksakan kesehatannya. Ia memilih duduk bersandar pada bangku panjang yang berada di ujung lorong tersebut, memainkan ponsel putihnya sambil sesekali menegokkan kepala kearah pintu disamping kanannya, berharap Kyuhyun segera keluar.

“Menungguku?” suara itu terdengar begitu jelas. Tapi tak ada respon dari gadis yang masih duduk manis di tempatnya tersebut.

Kyuhyun mendekat dan mencoba memastikan keadaan Chaeyeon yang menundukkan kepalanya. Ia berjongkok dihadapan gadis itu dan mulai sadar bahwa Chaeyeon tertidur, dia terlihat sangat lelah. Masih dalam posisi yang sama, Kyuhyun terus memperhatikan wajah Chaeyeon.

“Rambut ini..” gumamnya sambil membelai perlahan rambut Chaeyeon dengan tangan panjangnya. Disentuhnya perlahan dan sangat hati-hati mata, hidung, hingga bibir Chaeyeon.

“Semua tidak berubah. Syukurlah kau baik-baik saja, meskipun aku tidak baik-baik saja” lirihnya.

Seketika Kyuhyun terkesiap dan menahan tubuh Chaeyeon saat gadis itu tanpa sadar hampir terjungkal kearahnya. Kali ini posisi mereka berdua begitu dekat, sangat dekat. Entah setan apa yang merasuki Kyuhyun, tangannya bergerak merengkuh wajah Chaeyeon dan perlahan ia mendekatkan wajahnya.

‘Drrttt…’

“Sial!” umpat Kyuhyun saat merasakan ponselnya bergetar dan berbunyi hebat di saku celananya. Kontan hal itu membuat Chaeyeon terbangun dari tidurnya. Ia berusaha membuka matanya perlahan dan begitu terkejut saat melihat wajahnya dan Kyuhyun begitu dekat. Kyuhyun yang sempat melihat ponselnya sejenak kembali menoleh pada Chaeyeon. Gadis itu melotot tajam.

“Argh!!. Apa yang kau lakukan!”

Kyuhyun terkaget dan dengan refleks langsung menutup telinganya serta berdiri tegap.

“Aigoo, Ya Tuhan.. kenapa kau berteriak?. Apa kau pikir teriakanmu begitu pelan?” sindirnya.

“Apa yang kau lakukan denganku!, kenapa wajahmu, ani..wajah kita—”

“Kau harusnya berterima kasih karena aku sudah menahan tubuhmu agar tidak terjatuh dan membentur lantai” jelas Kyuhyun seraya mengedikkan kepalanya pada tangan kanannya yang masih menahan tubuh Chaeyeon. Gadis itu spontan langsung menyingkirkan tangan Kyuhyun dan pangkit dari bangku oanjang tersebut. Ia berdeham dan merapikan rambut juga pakaiannya.

“Yasudah, ayo kita pulang. Kau sudah selesai, kan?”

“Sudah”

Setelah menyelesaikan semua urusan di rumah sakit, Kyuhyun dan Chaeyeon memutuskan untuk pulang. Dengan diantar oleh Kyuhyun, Chaeyeon tetap saja bungkam di dalam mobil pria tampan tersebut.

‘Kruuuuukkk’

Mereka berdua terdiam, sesaat kemudian saling pandang seolah bertanya ‘suara apa yang aku dengar?’ tapi Kyuhyun tiba-tiba meringis pada Chaeyeon.

“Perutku.. aku lapar” ujarnya.

“Ya Tuhan, kau tidak makan?”

“Bagaimana bisa aku makan, keluar dari sini aku tak tahu jalan” celetuk Kyuhyun.

“Bohong. Kau kan orang Korea bagaimana bisa tidak tahu jalan”

“Aku hanya tinggal di Korea saat aku berumur 20 tahun, itupun hanya 1 tahun dan aku harus mengurusi perusahaan. Tidak ada waktu untuk bersantai” jelas Kyuhyun lagi.

“Arraseo, ayo kita makan. Kau ingin makan apa?” Tanya Chaeyeon akhirnya.

“Benarkah?. Ayo, apapun yang menjadi makanan favoritmu” tiba-tiba Chaeyeon terdiam.

“Kenapa makanan favoritku?” tanyanya bingung.

“Itu…umm… biasanya makanan favorit perempuan lebih enak dan tidak asal memilih”

“Begitu ya, oke. Kita pergi ke Gangnam”

Mobil-pun melaju santai menuju Gangnam. Senja mulai dating, tapi udara diluar sana tetap saja tak berganti hangat layaknya siang berganti malam. Mereka tiba di sebuah tempat makan yang menjadi langganan Chaeyeon. Chaeyeon merapatkan coatnya dan segera turun, begitu juga Kyuhyun yang mengikutinya di belakang sedikit berlari menghindari dinginnya udara.

Setelah memesan makanan, Chaeyeon memilih tempat duduk di lantai atas tepat disamping jendela besar yang langsung menampakkan pemandangan keramaian kota. Ia memandang Kyuhyun yang kini telah duduk di hadapannya.

“Kenapa wajahmu pucat?” Tanya Chaeyeon.

“Tidak, aku baik-baik saja. Hanya…dingin.” Jawab Kyuhyun.

Chaeyeon menatapnya bingung mengingat penghangat di ruangan itu dirasa cukup untuk menghangatkan tubuh mereka, seharusnya.

“Kau berkeringat” Chaeyeon berdiri dari duduknya dan menghampiri Kyuhyun. Ia menyentuhkan punggung tangannya pada kening Kyuhyun. Demam.

“Sudah kubilang aku baik-baik saja. Aku hanya lapar,dan perutku sedikit sakit karena aku tidak makan sama sekali sejak semal—tidak, maksudku terlambat makan pagi” jelas Kyuhyun, ia menoleh pada Chaeyeon yang kini tengah menatapnya dengan wajah khawatir.

“Bodoh, kau sedang sakit, kenapa kau tidak makan dan malah menungguku!.”

“Itu karena—”

“Jogiyo!” panggil Chaeyeon pada seorang waitress (pelayan) tanpa menghiraukan Kyuhyun.

Waitress tersebut datang, “Tolong berikan secangkir teh hangat” perintahnya.

Sepeninggal waitress tersebut, Chaeyeon perlahan melepas jaket yang Kyuhyun kenakan, ia ingin membuat Kyuhyun nyaman karena wajah pria itu sudah semakin pucat.

“Aigoo, kenapa lama sekali!?” umpat Caheyeon sedikit panik.

Dan disaat itu tiba-tiba tangan Kyuhyun bergerak menarik punggung Chaeyeon yang tengah membungkuk karena berusaha melepaskan jaketnya. Dipeluknya Chaeyeon erat sambil ia sandarkan kepalanya pada bahu gadis tersebut.

“Yak!. Apa yang kau lakukan!” pekik Chaeyeon sambil meronta dalam pelukan Kyuhyun.

“Dingin…” lirih pria itu. Chaeyeon terdiam dan berusaha mengendalikan dirinya. Jantungnya berdetak puluhan kali lipat lebih cepat. Ia kembali meronta karena takut Kyuhyun yang sedang memeluknya dapat mendengar detak jantungnya yang tak terkontrol.

“Lepaskan aku, ada banyak orang disini” titah gadis itu tajam dengan nada meninggi namun hanya mampu didengar oleh Kyuhyun.

“Kumohon, biarkan seperti ini. Sebentar saja, Lee Chaeyeon…” pinta Kyuhyun. “Kumohon..” lanjutnya.

Entah apa yang merasuki pikiran Chaeyeon, gadis itu justru menuruti kata-kata Kyuhyun dan tetap diam tak bergerak dalam posisinya. Sementara Kyuhyun semakin merapatkan pelukannya dan menempelkan kepalanya pada bahu Chaeyeon.

‘Aku merindukan aroma ini’ batin Kyuhyun.

‘Aku pernah merasakan pelukan ini… ada apa denganku?’ batin Chaeyeon bingung.

‘I think I love you—’

Chaeyeon masih dalam posisinya berusaha berogoh saku coatnya dan mengambil ponsel didalam sana. Ia melihat sekilas layar ponsel dan terdiam, tak tahu harus berkata apa. Layar itu memunculkan nama ‘Yunho Oppa’.

“Kyuhyun-ssi…kumohon lepaskan.” Pinta Chaeyeon sekali lagi.

“…” tak ada respon karena Kyuhyun tengah menggigit bibir bawahnya berusaha menahan rasa sakit pada perut bagian kirinya..

Meskipun tidak terlihat oleh sang penelepon, tapi rasa bersalah pasti akan hinggap pada siapa saja jika sang kekasih tengah berusaha menghubunginya sedangkan ia sendiri kini tengah berpelukan dengan pria lain. Begitu juga Chaeyeon, ada sedikit rasa bersalah terbesit dalam hatinya. Tapi ia tetap menerima panggilan tersebut.

“Yeoboseyo? (hallo)

“Chaeyeon-ah…”

“Oh, oppa. Apa yang sedang oppa lakukan sekarang?” tanyanya dengan suara bergetar.

“Memperhatikanmu” Chaeyeon mengerutkan keningnya bingung.

“Mwo?. Pasti oppa sedang memikirkanku, kan?” godanya.

“Tidak, Chaeyeon-ah. Lihatlah kemari..” Chaeyeon yang semakin bingung.

“Ne?”

“Lihatlah kedepan” suara besar itu melemah. Seketika Chaeyeon mengalihkan tatapannya pada jendela besar dihadapannya, memang dari sana pandangannya dapat menembus pemandangan diluar cfae, bahkan bangunan diseberang cafe tersebut yang juga memiliki jendela dengan ukuran sama.

Seorang pria duduk didalam cafe tersebut seorang diri. Terdiam menatap kearah Chaeyeon sambil memegang ponsel di tangan kirrinya. Chaeyeon terperangah.

“Aku pulang…” kata suara dalam ponsel yang masih terhubung tersebut.

“Yunho oppa…” gumam Chaeyeon tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia menatap wajah tampan yang terlihat begitu jelas dimatanya itu kaget. Ia bahkan dapat melihat pria itu tersenyum, entah kenapa ia merasa senyuman itu begitu terlihat miris dimatanya.

“Bogosipeo (aku merindukanmu), Lee Chaeyeon…”

Chaeyeon tak mampu mengontrol ekspresinya yang begitu kentara menunjukkan rasa kagetnya yang teramat sangat, ia hanya membeku tak bergerak sedikitpun masih dalam pelukan Kyuhyun yang tak lain adalah sepupu dari Yunho, tunangannya.

-To Be Continue-

Advertisements
As High As Eiffel Tower – Chapter 2

4 thoughts on “As High As Eiffel Tower – Chapter 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s