[Oneshoot] Autumn Breath

Autumn Breath

Tittle / Judul : Autumn Breath

Genre : Romance, Sad

Length : Oneshoot

Rated : PG-15

Main Cast : Lee DOnghae

Cast Yeoja : Park Eunhye (oc)

Other Cast :

Author : Kyuhye

Disclaimer : Annyeonghaseyo. Back again!…FF ini murni karya saya tanpa ada nsure copy-cat. Kesamaan nama tokoh, karakter, dan alur cerita murni kebetulan semata. Maaf jika mengecewakan dan mohon dimaklumi untuk typo. Happy reading untuk readers..

***

 

When I see you, I only smile- even shy smiles
Your eyes that look at me- are they sad and talking of goodbye baby
?”
– Super Junior _ Y_ –

‘Ckrekk..ckrekk..’

Donghae menghentikan aktivitasnya. Ia menurunkan kamera di tangannya hingga sejajar dada. Mata tajam pria itu memicing, satu detik kemudian ia mengangkat kembali kameranya dan saat itu juga ia berlari menuju ke suatu tempat.

“Gwaencanha?” Tanya Donghae pada seornag gadis yang terduduk diatas aspal yang dipenuhi guguran daun maple sambil menjulurkan tangan kanannya berusaha membantu gadis itu bangkit. Ya, gadis itu yang mengusik fokus pandangan Donghae. Beberapa menit yang lalu kameranya tanpa sengaja membidik sosok gadis dengan minidress putih gading itu. Gadis itu melompat dari atas pohon yang tak begitu tinggi, sambil memeluk kucing di tangan kirinya.

Gadis tersebut mendongak, dengan ekspresi terkejutnya ia menatap aneh Donghae yang masih berjongkok tepat di hadapannya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Donghae sekali lagi, berusaha memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.

‘Miauww…’

Suara kucing persia berbulu putih dalam genggaman gadis itu membuat lamunannya buyar. Seketika ia meraih tangan Donghae dan segera berdiri.

“Gomawo” ucapnya.

“Siapa namamu?”

“Ah, eumm… Park Eunhye”

“Ah…” jawab Donghae mengerti.

Donghae tersenyum kecil pada Eunhye yang terlihat membersihkan pakaiannya. Gadis itu tak melihatnya sama sekali.

“Kau baik-baik saja?” suara Eunhye membuat Donghae yang tengah mengalihkan pandangannya ke arah lain langsung menoleh tanpa diperintah.

“Aku baik-baik saja” jawab Donghae sambil mengembangkan senyum tiga jarinya. Hal itu justru membuat Eunhye menoleh menatapnya dengan pandangan aneh.

“Aku sedang berbicara dengannya” gadis itu menunjuk kucing dalam gendongannya. Seketika wajah Donghae memerah padam, malu saat menyadari bahwa ia terlalu percaya diri.

“Kau baru saja memanjat pohon itu?” Eunhye mengangguk membenarkan.

“Kucing ini terperangkap diatas sana. Dan dia tidak bisa turun. Aku sering menolongnya”

“Benarkah?. Tapi… terlihat aneh jika kau memanjat dengan pakaian seperti itu” Donghae melirik mini dress yang dikenakan Eunhye.

Gadis itu berdeham kecil, “Aku terlihat aneh ya ternyata…” katanya dengan nada sedih.

“Ah, bukan seperti itu maksudku. Mianhae…siapa..namamu?” akhirnya, Donghae menghela nafas lega mengingat bahwa gadis tersebut masih menganggap kehadirannya.

“Lee Donghae, senang bertemu denganmu” jawab Donghae ramah.

“Ah, ne. Sepertinya kau bukan berasal dari daerah ini” tanya Eunhye.

“Eumm.. Aku hanya ingin mencari suasana baru. Dan, lagipula aku sedang ada pekerjaan disini” jawab Donghae.

“Oh, begitu ya..” Eunhye-pun mulai melangkahkan kakinya perlahan, spontan Donghae berusaha menyamai langkah gadis itu.

“Kau tinggal disini?” tanya Donghae.

Eunhye mengangguk, ia kemudian menoleh pada Donghae dengan senyuman terkembang di wajahnya, “Kau ingin pergi melihat-lihat?” tawar Eunhye. Tentu saja Donghae menyetujuinya.

Keduanya berjalan menyusuri pepohonan maple yang mulai menguning, tanda musim gugur telah tiba. Udara dingin sore itu-pun mulai terasa menusuk tulang, setidaknya jas dan coat yang Donghae kenakan cukup membantu melindungi kulitnya dari tiupan angin.

“Kau tidak dingin?” Eunhye menggeleng. Tidak salah jika Donghae bertanya demikian, gadis itu terlihat begitu santai dan menikmati sekelilingnya hanya dengan pakaian tipis tanpa jaket atau penghangan tubuh semacamnya.

“Apa kau tidak pernah kemari sebelumnya?” tanya Eunhye.

“Tidak, ini baru pertama kalinya. Karena ada yang harus dilakukan, jadi aku kemari sekaligus ingin melihat keindahan awal musim gugur” jelas Donghae.

“Aku suka musim gugur” kata Eunhye tiba-tiba sambil tersenyum. Donghae langsung menatapnya, entah kenapa menatap wajah gadis itu membuatnya ingin sekali tersenyum.

“Kau cantik” gumam Donghae tiba-tiba.

“Eh?”

“Ah, tidak, pohon maplenya cantik” Donghae cepat-cepat mengalihkan pembicaraan yang ternyata justru malah membuat Eunhye tertawa mendengarnya.

Eunhye terus membimbing langkah Donghae menuju sebuah bukit.

Sesampainya di atas bukit yang dikamsud, mereka menghentikan langkah. Eunhye menatap Donghae sekilas, kemudian ia memejamkan mata selama 2 detik dan membukanya kembali, mengisyaratkan untuk Donghae agar menutup matanya. Tapi sayangnya, syaraf otak Donghae tak cukup cepat untuk menangkap isyarat tersebut.

“Apa?” tanya Donghae dengan wajah polosnya.

“Mata..” masih dengan ekspresi yang sama, Donghae justru mengedikkan bahunya tak mengerti.

Dengan hati-hati Eunhye melangkah ke belakang tubuh Donghae, kedua tangannya bergerak berusaha menutup rapat mata Donghae. Berhasil.

“Ah, kau memintaku menutup mata…. kenapa aku harus menutup mata?”

“Kau akan melihatnya nanti.. Donghae-ssi..” kata Eunhye mengakhiri kata-katanya lalu perlahan mendorong tubuh Donghae untuk maju.

“Berhitunglah sampai tiga didalam hati, kemudian buka matamu” bisik Eunhye.

‘Hana’

‘Dul’

‘Set’

“Woah!!!!. Aku tidak pernah tahu ada tempat seindah ini” pekik Donghae tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Dari atas bukit itu ia dapat melihat pemandangan desa kecil di kaki bukit tersebut yang tengah diselimuti dedaunan berwarna jingga akibat musim gugur yang mulai datang menggantikan musim panas yang telah berlalu. Warna jingga langit sore itu pun tak kalah indah, menjadi background dari keindahan alam yantelah terlukis sangat sempurna.

“Kau bisa menjadikan tempat ini untuk tempat wisata yang ramah lingkungan, semua orang bisa berkunjung kemari. Dan dari sini kau bisa melihat matahari terbenam” gadis dengan wajah lembut itu menghela napas.

“Jika ingin bertemu denganku kau bisa datang kemari” lanjutnya.

“Aku rasa ini tempat terbaik di Korea saat musim gugur” Donghae kembali mengangkat kameranya kemudian menjepretkan benda persegi panjang kecil itu kesana kemari.

“Kau benar… kau suka?”

“Sangat. Ini sangat mengagumkan”

Tiba-tiba saja Donghae menghentikan gerakannya, ia terlihat mengamati Eunhye yang tengah berdiri menatap ke depan. Tangannya terus menggenggam satu sama lain.

Donghae tersenyum. Membiarkan hening sejenak. Kemudian diam-diam ia mulai memotret pemandangan indah lainnya yang ada tepat didepan matanya tersebut. Park Eunhye.

“Ah!. Eunhye-ssi, bisakah kau berdiri disana?”

Eunhye menatap Donghae bingung, tapi kemudian ia menuruti permintaan Donghae dan segera melangkah ke salah satu sudut taman dengan pemandangan yang menakjubkan.

“Kenapa?” tanya Eunhye saat ia telah berdiri ditempat yang Donghae maksud.

“Jja!!.”

‘Ckrek..’

‘Ckrek..’

Beberapa kali Donghae mengambil gambar Eunhye lebih jelas karena kini seluruh sosok gadis itu tertangkap oleh kameranya dengan berbagai ekspresi. Kali ini Donghae benar-benar menyadari bahwa gadis itu amat sangat cantik.

Sore itu, Donghae berharap matahari tak kunjung tenggelam dari peradabannya. Dia berharap waktu berjalan lambat agar ia bisa terus bersama gadis itu. Tapi sayang, semua harapannya tak terwujud.

Perlahan matahari mulai berusaha meninggalkan area terangnya. Menghilang dibalik bukit-bukit yang menjulang di hadapannya.

“Donghae-ssi.. gomawo” lirih Eunhye tiba-tiba, “Aku bahagia” lanjutnya dengan senyum terukir di bibirnya.

“Aku juga. Sangat berterima kasih padamu. Untuk menemaniku. Dan untuk—”

‘Membuatku percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu memang ada’ batin Donghae.

Park Eunhye tersenyum kecil tanpa Donghae sadari.

“Jja!. Ayo kita kembali, hari sudah mulai gelap” ajak Eunhye untuk menuruni bukit. Donghae yang setuju langsung bergerak emngikuti langkah Eunhye yang mulai menjauh.

“Sajangnim!”

Seorang pria paruh baya terlihat berputar-putar disamping mobil sport Donghae. Pria itu terus meneriakkan kata ‘Sajangnim’ yang ditujukan untuk Donghae. Ditemani beberapa pria yang seusia dengannya ia terus mencari Donghae.

“Harusnya aku tidak membiarkan Donghae-ssi pergi sendiri, sekretaris Kim” pria dengan marga ‘Kim’ itu menoleh dan berusaha untuk tidak terlihat panik di hadapan salah satu tetuah sekaligus orang penting dalam bisnis Donghae tersebut.

“Tidak, tuan Dongwook. Sajangnim kami memang suka sekali memotret pemandangan, lagipula beliau juga perlahan harus memahami daerah ini, bukankah begitu?”

Semua terlihat setuju dan mengangguk mendengar ucapan sekretaris dari Donghae yang sebenarnya sangat panik itu.

Sementara itu…

“Dimana rumahmu?. Aku akan mengantarmu” tawar Donghae pada Eunhye yang berjalan didepannya. Gadis itu menghentikan langkahnya.

“Tidak perlu..” ia tersenyum, “Aku harus pergi kerumah temanku setelah ini. Lagipula semua orang sedang menunggumu”

Donghae mengernyitkan matanya. Bertanya-tanya dalam hati bagaimana gadis itu tahu jika ia mungkin sedang ditunggu?.

“Bagaimana—”

“Jalanlah terus melewati jalan ini. Kau pasti ingat, kan?” potong Eunhye sebelum Donghae sempat melanjutkan ucapannya.

“Dan ini—” Eunhye maju perlahan. Menarik tangan kanan Donghae dengan lembut. Ia meletakkan sesuatu diatas telapak tangan pria itu. Sebuah kalung dengan inisial ‘D’.

“Ini kenang-kenangan. Sebagai tanda pertemanan kita” ucap Eunhye sebelum akhirnya ia membiarkan Donghae pergi.

“Kau yakin tidak perlu diantar?.” Tanya Donghae ragu.

Dengan wajah yakin, “Tentu saja” kata Eunhye.

Donghae-pun perlahan menjauh. Dengan sangat berat hati. Ia terus menolehkan kepalanya kebelakang, dan masih dapat menemukan Park Eunhye berdiri di tempat yang sama sambil melambaikan tangan padanya dan tersenyum tidak jari.

“Jalga!!. (hati-hati)” teriak gadis itu dari kejauhan.

Donghae mendengarnya. Tapi ia tak lagi menoleh sebagai respon. Hanya menundukkan kepala, menatap kalung dalam genggamannya. Apakah itu hanya kebetulan saja, atau gadis itu pernah bertemu dengannya sebelum hari ini?. Sampai ia tahu bahwa namanya berawalan dengan huruf ‘D’.

Tak lama setelah itu Donghae tiba ditempat pertama kali ia berdiri. Dimana mobilnya terparkir dengan manis disana. Dengan beberapa pria mengelilinginya.

Sekretaris Kim menghela napas lega melihat sosok Donghae dari kejauhan.

“Sajangnim, anda darimana saja?”

“Maafkan aku, aku hanya menikmati pemandangan di bukit disana” jelas Donghae. Seketika suasana hening.

“Bukit?” tanya Park Dongwook. Ia adalah tetuah desa sekaligus orang yang paling dihormati disana. Rencananya perusahaan milik keluarga Donghae akan bekerjasama untuk menjadikan desa tuan Park tersebut menjadi desa wisata yang dapat membantu mengangkat perekonomian masyarakatnya.

“Ye, bukit disana. Diamana aku dapat melihat matahari terbenam dari atas sana” jelas Donghae tampak bahagia.

“Oh, haha.. bagaimana anda bisa tahu tempat itu?. Apakah anda kebetulan menyusuri jalan setapak itu?” tanya tuan Park.

“Tidak. Seorang gadis membawaku kesana, ia menunjukkan segala hal padaku. Dia benar-benar mengagumkan.”

“Gadis?” kini suasana mulai terasa aneh.

“Ye”

“Siapa namanya?” tanya tuan Park hati-hati.

“Eunhye-ssi… Park Eunhye-ssi” Donghae tersenyum senang hanya dengan menyebut nama Eunhye. Tapi tidak dengan park Dongwook. Pria itu mendadak lemas. Ia hampir saja terjatuh jika para bodyguardnya tidak dengan sigap menangkap tubuhnya.

“A-apa..katakan sekali lagi..si-siapa yang kau lihat?”

“Park Eunhye-ssi…”

“Park Eunhye-ssi…putriku” suara Park Dongwook mulai melirih dan bergetar, “Dia sudah pergi 2 tahun yang lalu. Terjatuh dari atas bukit itu”

Donghae menelan ludah. Berusaha menempatkan raganya kembali pada tubuh setelah sedikit terkejut dengan pernyataan sang kolega.

“APA!?” Donghae tampak tak percaya.

Seolah langit runtuh dan tengah menimpa kepalanya. Donghae yang tak kalah terkejut-pun merasakan lemas pada lututnya.

“Ti-tidak mungkin…”

Tanpa semua orang sadari, sosok Eunhye, gadis yang tengah mereka bicarakan terlihat berdiri disamping pohon maple. Tersenyum lembut menyaksikan orang-orang terkasihnya dari jauh.

“Mianhae, appa..” lirih Eunhye.

“Park Eunhye, putriku. Dia adalah gadis yang sangat ceria. Dia bekerja di perusahaan anda. Hari itu ia baru saja kembali dari Seoul. Bermaksud ingin menunjukkan padaku pria yang disukainya. Hari itu, aku menentangnya, karena anak gadis di desa ini tidak boleh menikah dengan pria lain selain dari perjodohan keluarga” tuan Park perlahan mulai membuka kenangan lamanya.

“Saat itu, Eunhye yang tak terima dengan pernyataanku memutuskan untuk pergi dari rumah dan berlari menuju bukit abadi. Bukit dimana ia selalu menghabiskan waktunya jika ingin menenangkan diri. Sore itu hujan turun cukup deras. Aku dan anggota keluarga lain berusaha mencarinya. Sayangnya saat kami hampir bertemu dengannya, kami mendengar teriakan yang kami tahu itu adalah suara Eunhye.” Lanjut tuan Park panjang lebar.

Flashback 2 years ago…

“ARGHHHH!!!!!”

“Eunhye!”

“Disana!. Dia pasti dibukit itu!. Ayo cepat.”

Semua orang berlarian menuju bukut. Saat mereka tiba diatas bukit, tak ada seorangpun disana. Tapi tiba-tiba suara itu kembali terdengar.

“Argh!!!. Tolong aku!. Kumohon!”

Seketika semua menyadari bahwa ada seseorang yang tengah terperosok dibalik bukit. Dan mereka menemukan Eunhye bergelanyut akar pohon maple disana.

Seluruh pagian dressnya terlihat lusuh oleh cipratan tanah yang basah. Gadis itu tengah menangis disana. Memohon pertolongan. Tuan Park yang menemukan sang putri dalam kondisi tersebut seketika berteriak histeris.

“Eunhye-ah!. Bertahanlah!!!!!. Appa disini anakku!. Bertahanlah!” teriak pria paruh baya itu sejadi-jadinya.

“Appa…” gumam Eunhye. “Maafkan aku..” lanjutnya dengan suara parau.

“Andwae!. Kau tidak salah, ini semua salah appa. Maafkan appa, putriku. Bertahanlah, appa akan merestuimu untuk mencintai lelaki pilihanmu.” Teriak tuan Park histeris tak terbendung.

“Aku sidah tidak kuat lagi appa…” jawab Eunhye. Darah segar bercampur lumpur dan guyuran hujan mengalir dari tangannya yang terus menggenggam akar kasar pohon yang menahannya.

Beberapa orang yang berusaha membantu mulai bergerak. Mengulurkan tali, menahan akar, bahkan meminta seseorang untuk turun kebawah sana demi menyelamatkan Eunhye. Tapi gadis itu tak mampu menahan ringis kesakita wajahnya.

“Aku sudah tidak kuat lagi, appa. Tanganku sakit” katanya.

“Andwae!. Jangan lepaskan!. Bertahanlah sedikit lagi kumohon cepatlah kalian selamatkan putriku!”

“Ne, sajangnim!”

Eunhye menatap sendu sang ayah. Kemudian tersenyum miris. Gadis itu melepaskan tangan kirinya perlahan. Ia menarik kalung yang bergantung di leher jenjangnya. Kemudian melemparnya keatas, kearah sang ayah.

“Simpan itu untukku, appa. Terima kasih untuk semuanya. Aku sangat mencintai eomma dan appa. Aku mencintai kalian.”

Mulut Eunhye terkatup rapat. Genggaman tangannya mulai melemah.

“TIDAK!!!!!”

Lepas sudah genggaman tangan gadis berparas cantik itu pada akar pohon yang menahan tubuhnya sejak tadi. Hujan turut mengantar kepergiannya. Tubuhnya terhempas kedalam jurang yang penuh dengan pepohonan. Hilang sudah senyuman Eunhye. Tapi cintanya tak pernah menghilang.

Flashback end

“Katakan ini semua bohong. Tidak mungkin seseorang yang sudah meninggal bisa berbicara!. Tidak mungkin dia bisa menyentuhku!. Dan tidak mungkin dia bisa memberikanku kalung ini. Tidak mungkin…” lirih Donghae tak kalah menyayat hati. Cinta pandangan pertamanya terhapus sudah. Gadis yang membuatnya tersenyum itu ternyata tidak nyata.

Donghae merogoh sakunya. Mengeluarkan seuntai kalung dengan inisial namanya. ‘D’. Seketika Park Dongwook terperangah. Ia seplah mengenali kalung itu.

“Itu benar milik Eunhye. Kalung itu.. kalung itu adalah benada yang akan diberikannya pada pria yang ia cintai itu. Jadi, pria itu—”

Mata Donghae kini tak mampu lagi menahan air matanya mengalir saat mendengar kata-kata pria yang ternyata ayah Park Eunhye itu. Ternyata ini bukan cinta pandangan pertama yang hanya ia rasakan. Tapi ini adalah cinta pada pandangan pertama yang juga Eunhye rasakan.

“Mianhaeyo.. mianhae.. aku terlambat mengetahui semua ini” batin Donghae sambil terisak.

“Sajangnim, apakah anda baik-baik saja?” tanya sekretaris Kim yang tengan duduk dibalik kemudi.

Donghae memutuskan untuk kembali ke Seoul setelah mendengar semuanya. Setelah semua yang dialaminya.

“Tidak” jawabnya atas pertanyaan sang sekretaris.

“Apakah anda ingin membeli sesuatu untuk menenangkan diri?”

Donghae menggeleng, dan tuan Kim dapat dnegan jelas melihat gelengan itu dari kaca spion di samping kanannya.

Donghae benar-benar tidak terlihat baik-baik saja. Ia teringat sesuatu. Kamera!. Ia segera meraih kameranya yang telah dimasukkan kedalam tas. Menyalakan kamera tersebut dan segera mencari hasil jepretannya sore tadi. Dimana Eunhye ada disana. Rasa tidak percayanya masih begitu mendominasi hatinya.

Tepat saat tangannya berhenti pada salah satu foto dimana seharunya Eunhye ada didalamnya, ia-pun terdiam seribu bahasa. Tak ada gadis itu. Park Eunhye tak ada disana. Senyuman gadis itu hilang begitu juga tubuhnya. Hanya ada pemandangan desa dan bukit-bukit disana. Begitu juga foto yang lainnya.

“Donghae-ssi” Donghae membeku. Tubuhnya mendadak dingin. Aliran darahnya terasa terhenti seketika. Ia mendengar suara itu. Suara yang ia dengar sore tadi. Suara Park Eunhye.

Donghae menoleh dan mendapati Eunhye tengah duduk disampingnya. Gadis itu tersenyum polos melihat tatapan kaget Donghae.

“Kenapa melihatku seperti itu?. Jangan membuatku merasa malu” gumam gadis itu.

Donghae mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Berusaha meyakinkan diri atas apa yang ia lihat. Tapi Eunhye masih disana. Masih duduk di kursi belakang mobilnya. Tepat disampingnya.

“Bohong..” kata Donghae.

“Wae?. Kau tidak suka?” tanya Eunhye.

“Suka” jawab Donghae lirih dengan mata berkaca-kaca.

“Bolehkah aku?” tanya Donghae tiba-tiba. Sebelum Eunhye menjawab, ia sudah lebih dulu merebahkan tubuhnya. Meletakkan kepalanya diatas paha Eunhye. Dengan posisi tengadah ia dapat melihat dengan jelas wajah gadis itu.

“Gomawo..” kata Eunhye.

“Apa?”

“Membuatku jatuh cinta” kata Eunhye dengan senyuman khasnya.

“Aku.. mencintaimu. Park Eunhye-ssi. Mianhae…”

Perlahan Donghae menarik wajah Eunhye mendekat ke wajahnya. Dengan hati-hati ia menempelkan bibirnya ke bibir Eunhye. Seolah gadis itu ada disana.

Tuan Kim menghentikan laju mobilnya dan mendapati Donghae merebahkan diri dengan mata terpejam. Ia tahu Donghae terpukul dengan apa yang ia alami hari ini. Pria yang telah menganggap Donghae seperti putranya sendiri itu mengambil jaket milik Donghae yang tergantung di kursi depan dan menyelimutkannya pada tubuh Donghae.

“Dia bahagia cintanya terbalas olehmu. Sajangnim…” gumam pria itu. Kemudian melanjutkan kembali perjalanannya.

“Ne… Kau benar. Aku sangat bahagia ia mencintaiku. Tuan Kim” sosok Eunhye masih memangku kepala Donghae tanpa dapat dilihat oleh tuan Kim. Mengelus lembut rambut dan wajah Donghae.

“Gomawo… Mianhae… Saranghae. Lee Donghae-ssi”

Flashback 2 years Ago

Gangnam-gu, Seoul – 2 Weeks before Eunhye’s death-

“Park Eunhye!!!!. Apa yang kau lakukan?”

Teriakan nyaring Yuna membuat Eunhye menjauhkan kepalanya dari gadis itu.

“Sssttt.. jangan berteriak, nanti dia bisa melihat kita!.”

“Wae..wae?. nugu? (siapa?)”

“Lee Donghae-ssi. Uri sajangnim..”

“Ya ampun!!!!!. Kau menyukainya!. Astaga Park Eunhye!. Kau ini—”

Seketika bekapan tangan Eunhye mendarat ke bibir Yuna. Sosok yang tengah mereka bicarakan berjalan ke arah mereka.

“Selamat Pagi” sapa Donghae ramah pada Eunhye dan Yuna.

“Pa-pagi..” balas Eunhye dengan muka memerah seperti kepiting rebus.

“Jatuh cinta benar-benar membuat orang terlihat seperti orang gila” sindir Yuna yang membuat Eunhye tersadar.

“Yak!. Jung Yuna!”

“Yuna-ah… menurutmu apa kalung ini bagus?”

“Bagus. Apa lagi itu terbuat dari white gold”

“Bisakah aku mendapatkan inisial ‘D’ sebagai liontinnya?” tanya Eunhye pada penjaga toko perhiasan itu.

“Mwo!. Kau gila!. Kau benar-benar membelinya untuk sajangnim!?. Woah, Daebak!”

“Sebagai kenang-kenangan. Lagipula sebentar lagi aku juga akan pergi”

“Kemana?”

“Pulang kerumah tentu saja.”

“Dasar aneh, pulang kerumah saja seolah akan pergi keluar negeri” Yuna menepuk bahu Eunhye yang membuat Eunhye tertawa renyah melihat tingkah rekan kerjanya tersebut.

“Aku akan memberi tahu appa tentang ini. Jadi kau harus mendoakanku atau jika tidak aku akan membunuhmu!”

“Hahaha.. tentu saja..tentu saja.”

-Flashback End-

Saying I love you, saying it to you
Saying I miss you, Saying I want to hug you, and only you
I want to protect you
For you, who will come back to me

  • Super Junior _ Y_ –

END

Advertisements
[Oneshoot] Autumn Breath

One thought on “[Oneshoot] Autumn Breath

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s